PRIMBON RAMALAN JODOH

DAFTAR SAHABAT YG MASUK The truth seeker
Tidak harus menjadi yang pertama,yang penting itu menjadi orang yang melakukan sesuatu dengan sepenuh hati.
HTML Counter
Sejak : 17 Agustus 2011

ISI DI BLOG INI HANYA GAMBARAN-GAMBARAN HIDUP YANG HAKIKI
Dan Merupakan Album yang berisi catatan yang saya tulis dalam perjalanan waktu.
Catatan yang terinspirasi dari apa yang saya lihat, saya baca, saya dengar, dan saya rasakan
MAAF JIKA GAMBAR GAMBAR yang kami Ambil Dirasa FULGAR dan UNCENCORED
Disclaimer: Artikel, gambar ataupun video yang ada di blog ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain,
dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain tersebut. Jika kami salah dalam menentukan sumber yang pertama, mohon beritahu kami

e-mail primbondonit@gmail.com HOTLINE SMS 0271 9530328
GAMBAR-GAMBAR dibawah ini BUKAN HANYA IKLAN tapi merupakan LINK SUMBER


Bagi sebagian masyarakat yang mengklaim diri sebagai masyarakat peradaban modern, westernism bahkan sebagian yang mengesankan perilaku agamis yakni hanya bermain-main sebatas pada simbol-simbol agama saja tanpa mengerti hakekatnya, dan kesadarannya masih sangat terkotak oleh dogma agama-agama tertentu. Manakala mendengar istilah mistik, akan timbul konotasi negatif. Walau bermakna sama, namun perbedaan bahasa dan istilah yang digunakan, terkadang membuat orang dengan mudah terjerumus ke dalam pola pikir yang sempit dan hipokrit. Itulah piciknya manusia yang tanpa sadar masih dipelihara hingga akhir hayat. Selama puluhan tahun, kata-kata mistik mengalami intimidasi dari berbagai kalangan terutama kaum modernism, westernisme dan agamisme. Mistik dikonotasikan sebagai pemahaman yang sempit, irasional, dan primitive. Bahkan kaum mistisisme mendapat pencitraan secara negative dari kalangan kaum modern sebagai paham yang kuno, Pandangan itu salah besar. Tentu saja penilaian itu mengabaikan kaidah ilmiah. Penilaian bersifat tendensius lebih mengutamakan kepentingan kelompoknya sendiri, kepentingan rezim, dan kepentingan egoisme (keakuan). Penilaian juga rentan terkonaminasi oleh pola-pola pikir primordialisme dan fanatisme golongan, diikuti oleh pihak-pihak tertentu hanya berdasarkan sikap ikut-ikutan, dengan tanpa mau memahami arti dan makna istilah yang sesungguhnya. Apalagi dalam roda perputaran zaman sekarang, di mana orang salah akan berlagak selalu benar. Orang bodoh menuduh orang lain yang bodoh. Emas dianggap Loyang. Besi dikira emas. Yang asli dianggap palsu, yang palsu dibilang asli. Semua serba salah kaprah, dan hidup penuh dengan kepalsuan-kepalsuan. Untuk itulah Warisjati merangkum beragam artikel dari beberapa sumber tentang pengetahuan Budaya dan tradisi di Nusantara yang merupakan warisan para leluhur yang sarat akan makna dan berbagai artikel lainnya yang saling melengkapi. Dengan harapan membangun sikap arif dan bijaksana dan mengambil pelajaran serta pengetahuan dari budaya masa lalu sebagai warisan leluhur di Nusantara ini.

ORANG YANG DENGAN MUDAHNYA MENGATAKAN SESAT KEPADA SESEORANG
ADALAH ORANG YANG TIDAK atau BELUM PAHAM AKAN DIRINYA SENDIRI

Cari Disini Artikel Yang ANDA INGINKAN INSYA ALLAH ada di BLOG INI

Selasa, 09 Agustus 2011

Alas Purba Krendhowahono dan tradisi "MAHESA LAWUNG"

Alas Purba Krendhowahono 
dan tradisi "MAHESA LAWUNG"

Alas Purba Krendhowahono berada di Utara Solo/Surakarta....
Merupakan salah 1 Situs Penghormatan/Pemujaan kpd Mother Durga (Goddess Durga/Betari Durga/Betari Koloyuwati). Masih dibawah naungan Keraton Surakarta....
“ Bismillahirrohmanirrohim sluman slumun slamet slamet kersaning Allah sengkolo-sengkolo podo nyingkiro jatu’ kramaku cepakno  laailaahaillallah teguh rahayu – rahayu ”

( kata kunci apabila kita memasuki kawasan alas krendowahono, bahwa keselamatan itu harus di utamakan, karena sesuatu yang besar bermula dari yang kecil)

Do’a itu yang diyakini ampuh apabila memasuki kawasan Alas Krendowahono, do’a tersebut diajarkan oleh Juru kunci alas krendowahono yakni Mbah Lurah Wiryono. 

Beliau telah mengabdi menjadi juru kunci selama 25 tahun. Di usianya yang hampir 1 abad dengan setia tetap mengemban amanah dari sang Sinuhun Paku Buwono X. Alas yang terletak di pinggir desa Krendowahono, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah masih menjadi situs sejarah terkait erat dengan Kraton Surakarta. 

Untuk mencapai lokasi tersebut kita harus berjalan kaki kira-kira 500 m melalui jalan setapak yang di lapisi batu bata berwarna abu-abu, jalan yang naik turun dan berundak-undak, serta rimbun pohon bambu yang masih liar menambah tantangan tersendiri bagi para peminat sejarah atau bahkan wisatawan. Jalan yang kami lalui ternyata telah melalui proses renovasi oleh pemerintah masa jabatan Hj. Rina Iriani S. Pd  M. Hum. sebagai Bupati Kabupaten Karanganyar. 

Namun demikian, sangat disayangkan dalam hal perawatan kompleks alas tersebut bisa dikatakan kurang, karena minimnya perhatian dari pemerintah setempat, misalnya penerangan dan perawatan yang layak untuk alas tersebut, padahal alas tersebut merupakan situs yang harus dilestarikan karena nilai kesejarahannya. Alas krendowahono sering juga di datangi oleh pengunjung, baik dari kalangan pelajar/mahasiswa, wisatawan asing maupun lokal. 

Wisatawan asing yang pernah datang berasal dari prancis, biasanya orang-orang yang mengunjungi situs ini dilatarbelakangi beberapa faktor, ada yang ingin mengetahui sisi sejarahnya, bahkan untuk bertapa agar mendapat keberkahan dalam hidupnya sampai ada yang meyakini apabila kita memohon dengan sungguh-sungguh di depan punden permintaan kita akan terkabul. 
Dalam lokasi ini terdapat beberapa situs yakni 
  1. Punden Krendowahono, 
  2. Bangsal, 
  3. Selo Gilang dan 
  4. Sendang Sihna
Di setiap masing-masing tempat masih terdapat dupa dan juga kembang 7 rupa yang aromanya menambah suasana Mistik dalam Alas Krendowahono.

Sekilas Sejarah Alas Krendowahono
Alas Krendowahonoadalah tempat yang disakralkan kraton Surakarta yang terletak di desa krendowahono Surakarta. Tempat ini dulunya merupakan hutan yang angker, pepatah mengatakan jalmo moro jalmo mati. Alas krendowahono juga merupakan tempat persemayaman eyang bethari durga.

Bila dilihat dari dimensi alam lain alas krendowahono juga merupakan kerajaan dengan pemerintahan yang telah tertata rapi. Pada masa perjuangan melawan penjajah tempat ini sering dijadikan persembunyian dan tempat menyusun strategi penyerangan terhadap penjajahan Belanda.

Konon pangeran kerajaan yogya yang terkenal yaitu Pangeran Diponegoro dengan pihak Keraton Surakarta sering mengadakan perundingan di tempat ini dan setiap Belanda mengadakan pengejaran di alas krendowahono  selalu tidak kembali.

Presiden pertama dan kedua kita yakni Soekarno dan Soeharto kabarnya juga pernah menyepi ditempat ini untuk urusan besar mengenai negara. Keberadan tempat ini sangat lama bahkan sudah diketahui sejak jaman Kediri, terbukti dari ramalan Jayabaya yang juga menyinggung mengenai keberadaan tempat ini. Hingga sekarang area alas krendowahono masih tetap membawa kesan angker dan begitu terasa hawa mistiknya.


Petikan Kisah Pewayangan "Satriya Sungging Sela Gumuling"

Kocap kacarita, dikisahkan Pangeran Rahadyan Seta putra mahkota dari Kerajaan Wiratha harus kabur ke hutan karena diusir dan hampir dibunuh oleh ayahnya sendiri yaitu Sang Prabu Durgandana. Ayah dan anak itu sebelumnya telah berselisih paham tentang pernikahan yang harus segera dilaksanakan oleh puteranya. Kekerasan hati Pangeran Seta yang menolak untuk segera menikah telah membuat murka Ayahnya. Dalam pelariannya, kini Sang Pangeran berdiam diri dalam sepi, di sebuah hutan jauh dari Negara Wiratha. Ia hendak meredam rasa amarah dan kesedihan yang berkecamuk di hatinya dengan melakukan laku tapa atau bersemedi. Pangeran Rahadyan Seta menemukan sebuah gundukan besar menyerupai batu di bawah sebuah pohon beringin putih nan sangat besar, di situlah ia melakukan pertapaannya untuk mengadukan keresahan hatinya kepada Sang Dewata.

Ditengah keheningannya bersemedi, tiba-tiba batu tempat Pangeran Seta duduk, tampak bergerak-gerak. Ternyata yang dikira batu besar oleh Pangeran Seta itu, tak lain adalah seekor kerbau yang sedang bersemedi juga. Kerbau itu bernama Mahesa Lawung yang berarti kerbau jantan nan liar. Mahesa Lawung marah-marah karena merasa dilecehkan, dijadikan alas duduk dan bersemedi oleh Pangeran Seta. Terjadi percekcokkan yang berakhir dengan perkelahian antara Pangeran Rahadyan Seta dengan Mahesa Lawung. Mahesa Lawung kalah berhadapan dengan senjata sakti Sang Pangeran yaitu Pusaka Kyai Gada Wesi Putih. Dalam kekalahannya, muncullah wujud asli dari Mahesa Lawung yang sebenarnya adalah Sang Hyang Sambu, putra dari Bathara Guru. Melihat hal tersebut, Pangeran Rahadyan Seta langsung sujud menyembah dan meminta maaf atas kelancangan sikapnya. Sang Hyang Sambu ternyata hanya memberi ujian terhadap laku tapa brata dari Sang Pangeran. Ia lalu memberikan petunjuk untuk mengatasi segala keresahan hati Pangeran Rahadyan Seta melalui pesan yang akan tertatah di sebuah batu yang bernama Sela Gumuling. Dalam petunjuknya tersebut, Sang Pangeran akan menikah dengan Dewi Kanekawati, puteri Bathara Narada yang pernah turun ke dunia menyamar sebagai raja bernama Kanekanata.



dengan hal yang sama raja-raja Mataram Surakarta juga mengadakan perjanjian dengan Bathari Kalayuwati atau NYI GEDENGPERMONI alias betari durga yang berkedudukan di Hutan Krendawahana (sekitar 20 km utara Kota Solo)
Kosmologi Kota Solo: Tmur-Gunung Lawu, Utara-Hutan Krendawahana, Barat-Gunung Merapi, Selatan-Samudra Hindia
Bathari Kalayuwati atau NYI GEDENGPERMONI 
alias betari durga yang berkedudukan di Hutan Krendawahana
Konon, diantara tokoh sakti yang pernahl lelaku(bertapa) di tempat angker ini, adalah Prabu Paku Buwono (PB) IV asal Keraton Surakarta. Jika bertandang di tempat sejuk dan asri ini, Paku Buwono IV bisa seharian penuh menikmati kekhusukan dalam semedinya di sekitar punden. Bahkan, jika dia merasa perlu menggembleng ilmu lebih tinggi lagi, Paku Buwono IV melakukan tirakatan di sekitar sendang Sihna hingga berhari-hari.

Tradisi melakukan ritual khusus di punden Bathari Durga bagi petinggi keraton Kasunanan Surakarta ini, akhirnya terbawa sampai turun-temurun. Beberapa keturunan Paku Buwono IV secara turun-temurun meneruskan warisan lelaku di punden. Mulai dari Paku Buwono V hingga Paku Buwono X.

Mereka selain melakukan semedi, juga mengadakan ritual siraman di sendang Sihna. Khusus untuk laku siraman, raja-raja Surakarta melakukannya sebelum mereka melakukan semadi di Punden Bethari Durga. Atau dengan istilah lain, sebelum ritual menyucikan diri lebih dulu dengan njamas (mandi) di sendang Sihna. Setidaknya mereka melakukan ritual di puden setiap tahun sekali, atau secara insidensil (sewaktu-waktu) ketika mereka sedang membutuhkan bantuan penunggu punden.

Kebiasaan demikian juga diwarisi oleh masyarakat umum. Keberadaan punden selama ini menjadi tempat untuk ngalab berkah serta melakukan ritual semedi dan tirakatan. Syarat-syarat yang dipenuhi para peziarah, cukup menyiapkan sesaji yang telah disiapkan. Diantaranya berupa kembang tabur dan kemenyan.

Juru kunci punden Mbah Wiryo mengingatkan, siapa pun yang hendak ngalab berkah di punden Bathari Durga harus selalu mawas diri. Dia mewanti-wanti agar memenuhi persyaratan lebih dulu. Diantaranya, menguatkan hati dan niat yang suci. Menjaga jangan sampai terkena murka penunggu punden. “Penunggu punden akan marah kalau orang yang datang tidak bersih hatinya, atau datang untuk tujuan yang kurang baik. Masalah hati dan niat ini harus yang lebih dulu dikuatkan,” ujar Mbah Wiryo 

Paling ditakutkan adalah berbuat asusila yang dilarang oleh agama dan norma masyarakat. Pengunjung berlawanan jenis yang datang diingatkan agar tidak terbuai asmara. Hingga melakukan ‘pergumulan setan’ alias melakukan hubungan intim yang bukan mukhrimnya di tempat ini.

“ Toh, kalaupun dilanggar akibat yang ditimpakan akan membuat seseorang celaka. Mungkin jatuh sakit atau mengalami kecelakaan di jalan,” jelas Mbah Wiryo.

Sampai sekarang alas Krendawahana, khususnya Punden Bethari Durga merupakan tempat yang teramat keramat dan angker. Sawab gaibnya mengalahkan kekuatan-kekuatan lain di wilayah sekitar. Kawasan punden tidak ubahnya sebagai istanannya lelembut setempat. Bahkan, diyakini Mbah Wiryo, di tempat itu Dewi Bathari Durga berada. Konon, kawasan punden diyakini sebagai istana Bathari dan bala tentara lelembutnya.

Hasil telisik mengungkap, kedalaman alam bathin di Alas (hutan) Krendhawahana di tempat ini merupakan kerajaan lelembut yang sangat besar dan luas. Dihuni oleh koloni koloni Jin dan banyak terdapat pusaka pusaka sakti serta batu mustika. Dipimpin Ratu Kerajaan Alam siluman bernama Bethari Durga.

Begitu besar sawab serta kekuatan ghoib di punden Krendhawahana. Maka wajar saja jika masyarakat sekitar sering menjumpai kejadian yang aneh-aneh. Seperti diketahui, di punden sering kali muncul kejadian ganjil yang sulit dicerna dengan akal sehat. Mulai dari kemunculan lelembut berwujud binatang buas, barisan prajurit sampai suara berisik para wanita seperti sedang mandi di sendang Sihna.
http://www.metropuncaknews.com/read/...n-betari-durgo

Di Kota Solo sendiri, Keraton Surakarta Hadiningrat mengadakan sejumlah upacara yang bertujuan untuk menghormati hubungan baik antara dunia manusia dengan dunia kasat mata. Sesaji Mahesa Lawung yang diadakan setahun sekali misalnya, adalah sarana untuk memperingati perjanjian sakral antara Sinuhun Pakubuwono sebagai Pancer dengan Bethari Kalayuwati sebagai utara agar semua yang masuk dalam lingkup kosmologis Kota Solo terhindar dari bencana dan malapetaka.

Menu Spesial : 
Kepala Kerbau dan Ciu Bagi Sang Bhatari
Kepala kerbau sebagai menu santap siang, pasti lezat selezat makanan olahan kepala kerbau di masa kerajaan Demak. Itu terjadi karena kerajaan Demak begitu menghormati tradisi Majapahit yang notabene beragama Hindu dan menghormati sapi sebagai wahana Dewa Wisnu. Dengan begitu tradisi qurban yang biasanya menyembelih sapi, diganti dengan kerbau.
Kepala kerbau, walang, bahkan ciu –minuman fermentasi- menjadi menu spesial bagi sang Bhatari penungu alas Krendawahana. Tak sembarang kerbau, kerbau yang ini sangat lezat bila disajikan saat masih perjaka alias belum pernah kimpoi dan belum pernah dipekerjakan. 

Alas Krendawahana adalah benteng utara kraton surakarta, pantas kiranya bila benteng spiritual ini masih dipertimbangkan. Dulu alas Krendawahana menjadi pusat dari seluruh penjaga dunia spiritual Jawa. Tak hanya negeri girimulto –tahun 387 m, kerajan Pengging, bahkan kerajaan Demak dengan 9 walinya pun harus mengikuti tradisi ini karena tak mempan menanggulangi bebendu –bencana- yang melanda negeri Demak saat itu. Sunan Kalijaga lah yang mendapat wahyu untuk memasan sesaji di alas Krendawahana. Tentu saja beberapa prosesinya diutak atik agar sesuai dengan aturan keislaman, termasuk diantaranya doa yang dipimpin oleh para sunan.

Saat ini mahesa lawung –begitu para abdi dalem ini menyebutnya, dilaksanakan untuk menjaga keutuhan kraton surakarta dan bangsa Indonesia. 

Tradisi yang tetap dilestarikan
Sesaji "Mahesa Lawung" Keraton Surakarta
Seiring perkembangan zaman Alas Krendowahono tidak pernah lepas dari adat Kraton Surakarta yakni upacara “Mahesa Lawung”. Upacara mahesa lawung merupakan upacara yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Suro atau Ba’da bulan Maulud. Dalam upacara tersebut dibutuhkan sesaji berupa ayam panggang, kelapa muda, nasi putih, bunga tujuh rupa dan kepala kerbau yang masih dibungkus kain putih. Dalam bahasa jawa Mahesa berarti kerbau, sedangkan Lawung berarti jantan, liar dan belum pernah kawin.

Menurut Pengageng Museum Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, KGPH Puger, kepala kerbau adalah simbol kebodohan yang harus diperangi. “Prosesi pemendaman kelapa kerbau di Alas Krendowahono menjadi simbol bahwa kebodohan harus dipendam sedalam-dalamnya”. Dahulu upacara Mahesa Lawung dilaksanakan untuk menghormati para leluhur. 

Namun, sekarang lebih berkembang karena do’a bukan hanya ditujukan untuk para leluhur tetapi juga dipanjatkan untuk keselamatan negara. 

Mereka  berharap dengan adanya Upacara Mahesa Lawung  Indonesia menjadi negara yang aman, tentram dan makmur. Dengan mengumpulkan semangat kesadaran kolektif untuk sanggup menderita dan sengsara atau berkorban (lawung) demi keselamatan dan ketenteraman Negara Kesatuan Republik Indonesia dan tidak lupa demi menegakkan Pathok Negaranya, yaitu Pancasila dan Preambule UUD’45.
Kisah Mahesa Lawung di Alas Krendhowahono

Dalam Kisah pewayangan, setiap kali para Ksatria hendak menunaikan tugas mulia atau sedang mencari jawaban atas permasalahan hidupnya, ketika mereka melintasi hutan belantara pasti akan mendapat hadangan dari hewan buas jadi-jadian dan para Buto atau raksasa penunggu hutan tersebut. Hutan belantara adalah simbol dari gelap dan ruwetnya alam pikiran manusia, dimana sering timbul godaan hawa nafsu yang disimbolkan hewan buas serta raksasa, yang akan menggagalkan niat-niat baik dalam diri manusia. Pemaknaan inilah yang menjiwai dari Upacara Mahesa Lawung yang digelar secara rutin oleh Kraton Kasunanan Surakarta. Upacara Mahesa Lawung diadakan 40 hari setelah Grebeg Maulud di sebuah hutan yang bernama Alas Krendhowahono. Hutan sebelah utara Kota Solo yang terletak di Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, ini dikenal oleh masyarakat sebagai tempat angker dengan mitos Bethari Durga sebagai penunggunya. Hutan Krendhowahono mempunyai sebuah petilasan yang penting yaitu Watu Gilang dimana Pakubuwono VI dan Pangeran Diponegara sering bertemu ditempat itu untuk membicarakan strategi dalam menghadapi peperangan dengan pihak Belanda. Konon, menurut penuturan warga di sekitar hutan, Ir Soekarno presiden pertama Republik Indonesia sering menyepi dan bersemedi di hutan tersebut.

Upacara Mahesa Lawung merupakan upacara yang sudah turun-temurun yang muncul di lembaran sejarah tanah Jawa pada zaman Dinasti Syailendra-Sanjaya yang tampak dalam arca Durgamahesasuramandini. Dengan bergantinya era kerajaan Hindu-Budha menjadi Kerajaan Islam, maka Upacara Mahesa Lawung juga dikemas dengan doa-doa bernafaskan Islam. Upacara Mahesa Lawung diawali dengan menata semua sesaji dan perlengkapan upacara di Bangsal Sitihinggil Kraton Kasunanan Surakarta, lalu semua peserta upacara melakukan doa bersama di sana. Setelah itu rombongan menuju ke Hutan Krendhawahono untuk melanjutkan ritual yang menjadi puncak Upacara Mahesa Lawung. Sesampai di tengah hutan, sesaji diletakkan di puncak sebuah punden yang berada di bawah pohon beringin besar. Sesaji yang paling utama adalah potongan kepala kerbau yang dibungkus dalam kain kafan. Selain itu terdapat berbagai macam sesaji seperti aneka bunga, ayam ingkung, kelapa muda, serta aneka serangga, binatang melata dan binatang berbisa, yang sering disebut dengan "Sesaji Kutu-kutu Walang Atogo".

Asap kemenyan mulai menyebarkan wanginya keseluruh pelosok hutan dan doa-doa kembali dilantunkan. Pemimpin upacara mulai mendaraskan doa dan disambut peserta upacara dengan mengucapkan kata "rahayu". Satu persatu kerabat Kraton Kasunanan Surakarta naik ke atas punden untuk meyampaikan doa pribadi masing-masing. Beberapa Sentono dan Abdi dalem juga bergiliran untuk berdoa di atas punden. Setelah selesai upacara, kepala kerbau tersebut dikuburkan ditempat tersebut dan sesaji yang lain dibagi-bagikan kepada para peserta upacara.

Doa dalam Upacara Mahesa Lawung adalah doa-doa untuk memohon keselamatan kepada Tuhan agar dijauhkan dari mara bahaya dan bencana. Permohonan ini tidaklah sebatas kata, tapi dimaknai dengan keberanian untuk bersesaji atau berkorban. Upacara Mahesa Lawung adalah sebuah gambaran dari tekad untuk membunuh sifat-sifat "kerbau" dalam hati manusia dan menguburkannya dalam-dalam. Kerbau merupakan penggambaran dari sifat-sifat buruk manusia seperti kebodohan, kemalasan dan sikap acuh tak acuh terhadap sekitar. Dengan keberanian untuk mengorbankan sifat-sifat buruk tersebut, diharapkan muncullah hubungan baik dari segala unsur semesta ini, baik hubungan antara manusia dengan sesamanya, dengan alamnya, maupun dengan Tuhan Sang Penguasa alam ini, demi mewujudkan kehidupan yang lebih baik, sejahtera dan dijauhkan dari bencana.
http://kratonpedia.com/
Sesaji Mahesa Lawung Keraton Surakarta
Keraton Kasunanan Surakarta menggelar acara ritual budaya Mahesa Lawung, ritual adat Keraton untuk memohon keselamatan dan supaya terhindar dari segala macam mara bahaya. Sesaji Mahesa Lawung sendiri dilaksanakan di Alas Krendawahana sebagai bentuk persembahan kepada Bathari Kalayuwati. Yang diyakini sebagai pelindung gaib Keraton Surakarta di bagian utara.
Alas Krendawahana adalah sebuah hutan yang sampai sekarang masih terkenal dengan keangkerannya. Karena dipercaya sebagai tempat bersemayamnya Bathari Kalayuwati [Durga].
Pengageng Museum dan Pariwisata Keraton Surakarta, GPH Puger, menyatakan ritual ini telah menjadi agenda pokok keraton.

“Pemilihan harinya selalu jatuh pada hari Senin atau Kamis dan Pelaksanaan ritual sudah menjadi ketetapan tentang peringatan upacara tradisi dari Keraton Surakarta. ,” jelasnya.

Menurutnya, pelaksanaan kali ini memang tak jauh berbeda dengan sebelumnya. Perlengkapan sesaji yang digunakannya pun nyaris sama. Di antaranya kepala Mahesa Lawung [kerbau yang masih perjaka dan belum pernah dipekerjakan] beserta empat telapak kakinya, walang atogo [berbagai jenis belalang] sebagai simbol rakyat kecil. Juga sesaji lain yang terdiri atas barang mentah dan matang  yang kesemuanya menyimbolkan makna-makna tertentu, dimana sesaji ini dimaksudkan juga sebagai wilujengan nagari.
UPACARA MAHESA LAWUNG : 
SESAJI KEPALA KERBAU DI ALAS KRENDHOWAHONO
Prosesi Mahesa Lawung Keraton Surakarta
Prosesi ritual ditandai dengan keluarnya berbagai sesaji dari Dalem Gondorasan [dapur keraton] sekitar pukul 09.00. Setelah dibawa ke sitihinggil keraton, GPH Puger kemudian menyerahkan ubarampe sesaji kepada utusan keraton.
image
Usai acara ini rombongan dari keraton yang berjumlah tak kurang dari 500 abdidalem langsung menuju kawasan Alas Krendawahana yang terletak di Desa Krendawahana, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar atau sekitar 20 km dari Keraton Surakarta.

Sesampai di Alas Krendawahana, sesaji Mahesa Lawung beserta ubarampe-nya lantas diletakkan di tempat khusus. Yakni di sebuah punden yang letaknya di bawah pohon beringin putih yang cukup besar.
Punden tersebut tiada lain yang selama ini diyakini tempat bersemayamnya Bathari Kalayuwati, pelindung gaib keraton di bagian utara. Setelah semuanya siap, ritual pun dimulai. Namun, sebelumnya dilakukan pembacaan sejarah singkat tentang digelarnya Sesaji Mahesa Lawung oleh salah seorang abdidalem keraton.
Prosesi ritual diawali dengan penyampaian ujub [maksud dan tujuan] ritual. Dilanjutkan dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh KRT Pudjodiningrat. Sepanjang prosesi, para abdi dalem yang duduk bersimpuh mengitari punden terlihat amat khusuk.

Suasana khidmat dan sakral benar-benar tercipta sepanjang prosesi berlangsug. Terlebih ketika kepulan asap dupa yang sengaja disulut di beberapa tempat seakan menambah kesan tersebut.
Usai ritual doa dan pembacaan mantra-mantra sakti, dilanjutkan memendam kepala kerbau dan sesaji yang terdiri atas barang-barang mentah lain di sekitar punden. Sebagai tumbal untuk mencari keselamatan dan kesejahteraan sebagaimana yang diharapkan.

Sementara itu, sesaji yang terdiri atas barang-barang matang, seperti nasi wuduk, gudangan, jajan pasar, dan lainnya dibagikan kepada para pengunjung yang hadir dalam upacara itu. Ada kepercayaan, barang siapa bisa mendapatkan atau memakan barang-barang yang digunakan untuk sesaji itu, apa yang diinginkan kemungkinan besar akan terkabul.

Sumber : http://seputarsolo.com/04/04/2011/prosesi-mahesa-lawung-keraton-surakarta/
Memasuki alas Krendhowahono
Para abdi dalem membawakan aneka sesaji 
Kain kafan putih ini berisi sesaji berupa potongan kepala kerbau 
Mimimpin Doa 
Setelah upacara selesai, sesaji dibagi-bagikan
Prajurit para tamtama Siap menjaga kelancaran jalannya upacara 
(teks dan foto : Stefanus Ajie/Kratonpedia)

2 komentar:

  1. artikel yang mantap mas donit, saya sangat menyukai tentang budaya dan pernak pernik didalamnya.. salam kenal

    BalasHapus
  2. Salam KENAL Juga .... SALAM BUDAYA

    BalasHapus

SEMANGAT PAGI....SUKSES Untuk SEMUA
JIKA ANDA PIKIR BISA PASTI BISA..!
Maaf apabila dalam pengambilan GAMBAR dirasa VULGAR
(Gambaran ini Hanyalah FAKTA sesuai dengan ASLINYA)
dan TIDAK Mutlak untuk diperdebatkan......................!!!

KALAU MAU DONATUR ( SEDEKAH )

Sedekah (Bisa Menunda Kematian)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
KLIK GAMBAR UNTUK MEMBESARKAN dan MASUK LINKnya

KOLEKSI HASIL SKRIPSI for MAHASISWA 100%FREE
  • KLCK aja ICON dibawah untuk Baca berita