PRIMBON RAMALAN JODOH

DAFTAR SAHABAT YG MASUK The truth seeker
Tidak harus menjadi yang pertama,yang penting itu menjadi orang yang melakukan sesuatu dengan sepenuh hati.
HTML Counter
Sejak : 17 Agustus 2011

ISI DI BLOG INI HANYA GAMBARAN-GAMBARAN HIDUP YANG HAKIKI
Dan Merupakan Album yang berisi catatan yang saya tulis dalam perjalanan waktu.
Catatan yang terinspirasi dari apa yang saya lihat, saya baca, saya dengar, dan saya rasakan
MAAF JIKA GAMBAR GAMBAR yang kami Ambil Dirasa FULGAR dan UNCENCORED
Disclaimer: Artikel, gambar ataupun video yang ada di blog ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain,
dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain tersebut. Jika kami salah dalam menentukan sumber yang pertama, mohon beritahu kami

e-mail primbondonit@gmail.com HOTLINE SMS 0271 9530328
GAMBAR-GAMBAR dibawah ini BUKAN HANYA IKLAN tapi merupakan LINK SUMBER


Bagi sebagian masyarakat yang mengklaim diri sebagai masyarakat peradaban modern, westernism bahkan sebagian yang mengesankan perilaku agamis yakni hanya bermain-main sebatas pada simbol-simbol agama saja tanpa mengerti hakekatnya, dan kesadarannya masih sangat terkotak oleh dogma agama-agama tertentu. Manakala mendengar istilah mistik, akan timbul konotasi negatif. Walau bermakna sama, namun perbedaan bahasa dan istilah yang digunakan, terkadang membuat orang dengan mudah terjerumus ke dalam pola pikir yang sempit dan hipokrit. Itulah piciknya manusia yang tanpa sadar masih dipelihara hingga akhir hayat. Selama puluhan tahun, kata-kata mistik mengalami intimidasi dari berbagai kalangan terutama kaum modernism, westernisme dan agamisme. Mistik dikonotasikan sebagai pemahaman yang sempit, irasional, dan primitive. Bahkan kaum mistisisme mendapat pencitraan secara negative dari kalangan kaum modern sebagai paham yang kuno, Pandangan itu salah besar. Tentu saja penilaian itu mengabaikan kaidah ilmiah. Penilaian bersifat tendensius lebih mengutamakan kepentingan kelompoknya sendiri, kepentingan rezim, dan kepentingan egoisme (keakuan). Penilaian juga rentan terkonaminasi oleh pola-pola pikir primordialisme dan fanatisme golongan, diikuti oleh pihak-pihak tertentu hanya berdasarkan sikap ikut-ikutan, dengan tanpa mau memahami arti dan makna istilah yang sesungguhnya. Apalagi dalam roda perputaran zaman sekarang, di mana orang salah akan berlagak selalu benar. Orang bodoh menuduh orang lain yang bodoh. Emas dianggap Loyang. Besi dikira emas. Yang asli dianggap palsu, yang palsu dibilang asli. Semua serba salah kaprah, dan hidup penuh dengan kepalsuan-kepalsuan. Untuk itulah Warisjati merangkum beragam artikel dari beberapa sumber tentang pengetahuan Budaya dan tradisi di Nusantara yang merupakan warisan para leluhur yang sarat akan makna dan berbagai artikel lainnya yang saling melengkapi. Dengan harapan membangun sikap arif dan bijaksana dan mengambil pelajaran serta pengetahuan dari budaya masa lalu sebagai warisan leluhur di Nusantara ini.

ORANG YANG DENGAN MUDAHNYA MENGATAKAN SESAT KEPADA SESEORANG
ADALAH ORANG YANG TIDAK atau BELUM PAHAM AKAN DIRINYA SENDIRI

Cari Disini Artikel Yang ANDA INGINKAN INSYA ALLAH ada di BLOG INI

Sabtu, 06 Agustus 2011

P#0 Legenda Dewi Sri dalam Rumah Jawa


Legenda Dewi Sri dalam Rumah Jawa

Pembagian ruang pada rumah Jawa banyak dipengaruhi oleh faktor budaya. Kebudayaan agraris merupakan salah satu faktor yang memiliki peran cukup besar dalam menentukan fungsi ruang.
Kegiatan agraris merupakan kegiatan yang mengalami proses panjang dan memakan waktu hingga ribuan tahun (tidak begitu saja terbentuk) di dalam sejarah kebudayaan manusia. Masa kejayaan masyarakat agraris bermula pada saat berakhirnya masa mengumpulkan makanan (food gathering) dan perlahan tergantikan perannya ketika revolusi industri dimulai. Saat itu manusia berhenti mengumpulkan makanan karena mereka menemukan cara yang lebih baik untuk hidup yakni dengan mengolah tanah pertanian dan menjinakkan hewan.
Masyarakat agraris dan kebudayaan bermukim memiliki kaitan yang erat, sebab di saat manusia mulai bertani dan beternak, manusia sudah tidak mungkin lagi hidup berpindah-pindah. Dengan kata lain: muncul ide berupa kebutuhan untuk menetap, menciptakan rumah, dan mengembangkannya menjadi permukiman sederhana. Hal ini yang menyebabkan mengapa kebudayaan agraris punya pengaruh dalam pengaturan ruang pada rumah tradisional, salah satunya pada rumah Jawa yang akan dibahas berikut.
Senthong Tengah yang Sakral
Masyarakat Jawa adalah salah satu kelompok yang tidak hanya menjadikan bertani sebagai mata pencaharian tapi juga urat nadi seluruh kehidupan. Kepercayaan masyarakat Jawa di masa sebelum masuknya Islam banyak dipengaruhi oleh kegiatan agraris; begitu pun dengan peran ruang-ruang pada tempat tinggal. Termasuk legenda Dewi Sri yang memiliki ruang khusus di dalam rumah. Senthongtengah merupakan ruang yang mewadahi kebutuhan manusia untuk melaksanakan ritual yang erat kaitannya dengan pertanian dan Dewi Sri.
Senthong memiliki arti ruang yang diberi sekat. Terletak di sisi belakang rumah, senthong berupa bilik/kamar tertutup yang memiliki bukaan untuk masuk (bisa berdaun pintu atau dipasangi tirai). Ada 3 buah senthong pada setiap rumah Jawa. Dalam rumah Jawa—yang selalu menghadap ke selatan—ketiga senthong ini saling berjajar, disebut senthong barat, senthong tengah, dan senthong timur.
Fungsi senthong sangat berkaitan erat dengan kegiatan bertani. Dalam buku berjudul Omah karya Revianto Budi Santosa, dipaparkan dengan jelas perihal ruang-ruang pada beberapa tipe rumah Jawa di Yogyakarta. Dalam salah satu rumah yang ia kaji, senthong barat biasa digunakan untuk penyimpanan bahan makanan dan senthong timur untuk menyimpan alat pertanian. Yang teristimewa adalah senthong tengah, tempat yang sengaja dikosongkan (hanya ada sebuah amben rendah untuk menyimpan barang berharga) dan tidak dipakai berkegiatan apapun.
Ruang senthong tengah dianggap berada di tempat yang terbaik di rumah sehingga diperlakukan sebagai tempat paling suci, tempat Dewi Sri “berkunjung”. Suasana dalam ruang ini hening dan mistis, terpisah dari kegiatan sehari-hari yang bersifat keduniawian. Di ruang ini, secara periodik pemilik rumah melakukan ritual pemujaan terhadap arwah nenek moyang (dipersonifikasikan sebagai Dewi Sri). Ritual meletakkan sesajen dilakukan sebagai penghormatan terhadap sang pelindung padi, agar senantiasa diberi hasil padi yang melimpah dan kesejahteraan dalam rumah tangga.

Figur Sri Dalam Tata Ruang Rumah Tradisional


Penghormatan kepada Dewi Sri juga diekspresikan dalam sistem tata ruang bangunan rumah Jawa tradisional. Dalam tata ruang tersebut selalu ada ruang untuk tempat persinggahan Dewi Sri yang disebut pasren atau petanen, atau pedaringan yaitu suatu ruangan yang terdapat di senthong tengah. 
Senthong tengah oleh masyasrakat agraris diyakini sebagai tempat istirahat Dewi Sri, oleh sebab itu senthong tengah tersebut juga dipergunakan untuk tempat pemujaan kepada Dewi Sri. Tempat tersebut merupakan simbolisasi keberadaan Dewi Sri sebagai dewi kesuburan, dewi padi yang disakralkan oleh petani. Segala sesuatu yang terkait dengan keberhasilan dan tidaknya usaha tani mereka diyakini tergantung pada Dewi Sri. 


Oleh sebab itu petani melakukan penghormatan kepada Dewi Sri dengan menyediakan tempat khusus untuk tempat bersemayam Dewi Sri yang disebut pasren, atau petanen tersebut. Jadi pasren atau petanen bagi petani merupakan symbol adanya hubungan yang erat antara petani dengan Sri. Petani melakukan penghormatan dengan melakukan ritual-ritual untuk Dewi Sri, dan Dewi Sri diharapkan akan memberikan apa yang diinginkan petani yaitu hasil panen yang melimpah dari tahun ke tahun.


Pada rumah berarsitektur joglo milik seorang bangsawan, pasren dilengkapi aksesori patung Loro Blonyo. Patung Loro Blonyo ini merupakan simbol bersatunya Sri- Sadhono sebagai lambang kesuburan. Sebagai simbol pasangan pengantin, diharapkan sang pengantin diberi pancaran kecantikan seperti Dewi Sri, dan kesuburan untuk regenerasi sang pengantin.


Figur Dewi Sri dalam pemeliharaan pertanian maupun rumahtangga menjadi kerangka acuan bagi orang Jawa khususnya petani Jawa di dalam memperlakukan tanah pertaniannya dan rumahnya. Dua hal yang mendasari tindakannya ini adalah supaya diberi keselamatan dalam melakukan pekerjaan pertanian dan adanya kepercayaan bahwa proses kehidupan tanaman sama dengan kehidupan manusia. Oleh sebab itu mereka berfikir untuk menjaga hubungan spiritual terhadap yang memelihara tanah pertaniannya dengan melakukan ritus-ritus, upacara atau slametan.


Arsitektur rumah Jawa tradisional sekarang ini sudah semakin jarang dijumpai, dengan kata lain rumah tradisional Jawa yang memiliki ruang senthong tengah sudah jarang diketemukan. Ini berarti tradisi pemujaan Dewi Sri di senthong tengah, atau pasren, atau petanen, pedaringan, yang dilakukan oleh petani juga sudah mengalami pergeseran. Penghormatan terhadap Dewi Sri di rumah pada umumnya dilakukan oleh para petani dengan membuat sesaji yang diletakkan di ruangan lain, misal di tempat menumpuk padi, menyimpan beras sebelum padi hasil panen dijual atau dikosumsi sendiri, atau di dapur.
Berangsur-angsur Lenyap
Peran senthong tengah pada rumah Jawa demikian besar karena ruang ini dapat berlaku sebagai penghubung antara tempat tinggal, lahan pertanian, dan dunia arwah pelindung manusia. Namun seiring berjalannya waktu, ruang ini pun berangsur-angsur kehilangan peran. Masuknya agama-agama modern ke Jawa merupakan salah satu penyebabnya. Ajaran agama monoteis tidak membenarkan ritual peletakan sesajen dan pemujaan sejenis.
Perkembangan selanjutnya menunjukkan senthong adalah yang paling pertama “hilang” fungsinya. Revianto memberi contoh pada salah satu rumah yang ia amati, karena alasan finansial keluarga makasenthong tengah adalah ruang yang terpaksa disewakan. Hal ini mereka lakukan karena senthongtengah dianggap tidak lagi memiliki fungsi penting. Pada rumah yang lain, fungsi senthong tengah menjadi tempat menyimpan benda-benda peninggalan yang sudah tidak terpakai tapi harus dilestarikan. Ruang ini kini hanya menjadi nostalgia kebudayaan yang pernah jaya di masa lalu.
Sang Hyang Sri, Dewi Pelindung Padi
Siapakah Dewi Sri?
Dewi Sri—menurut Budiono Herususanto dalam naskah skripsi berjudul Simbolisme dalam Budaya Jawa: Sebuah Tinjauan Filsafati—merupakan tokoh simbolik masyarakat Jawa sebagai hasil asimilasi paham animisme dan paham Hindu. Di kalangan masyarakat petani di Jawa, kepercayaan pada Dewi Sri cukup mendalam dan tercermin pada perlakuan mereka terhadap padi. Dewi Sri juga melambangkan rumah, tanah, kestabilan, dan kesejahteraan.
Dalam legenda Jawa, Dewi Sri pernah dikutuk oleh ayahnya menjadi ular sawah. Dia kemudian berkelana dan selalu berpesan pada tiap orang agar memberikan sesajen didepan petanen (kamar tengah) agar sandang pangannya tercukupi. Itulah sebabnya senthong tengah di rumah Jawa disucikan dan pada ruang ini diberi gambar ular naga yang melambangkan kemakmuran. Dahulu, apabila ada ular sawah masuk kedalam rumah, penghuni rumah menganggapnya sebagai pertanda bahwa sawahnya akan diberikan hasil yang baik. Karenanya mereka tidak mau mengganggu ular sawah dan malah memberi sesaji. (mya / Foto: Traditional Architecture of Indonesia)


Tradisi Yang Bersumber Pada Dewi Sri Dalam siklus pertanian


Sejak berabad-abad yang lampau masyarakat pedesaan Jawa sudah mengenal kehidupan agraris. Pada umumnya mata pencaharian pokok masyarakat Jawa adalah bercocok tanam. Jadi masyarakat Jawa sangat paham bagaimana memperlakukan tanah garapannya yaitu dalam mengolah, memelihara, dan memanen. 
Demikian juga usaha-usaha bagaimana agar hasil sawah dapat melimpah, dan membasmi hama-hama penyakit yang menyerang tanaman mereka dengan cara melakukan kegiatan-kegiatan ritual. 


Berkaitan dengan hal itu mitologi mengenai Dewi Sri mengungkapkan mengenai asal-usul padi, memelihara, melindungi, dan menjaga kesuburan padi, yang semuanya itu menjadi kekuasaan Dewi Sri.
Untuk menjaga hubungan ini pada umumnya petani melakukan ritus-ritus pemujaan terhadap Dewi Sri.
Cara hidup bertani pada masyarakat Jawa sejak dahulu sampai sekarang pada umumnya masih menggunakan cara-cara tradisional baik dalam hal pelaksanaan teknis mengolah pertanian maupun yang berkaitan dengan sistem kepercayaan mereka yaitu penyelenggaraan upacara upacara yang berkaitan dengan pertanian. Sampai sekarang proses tahap-tahap penanaman padi di Jawa belum kehilangan sifat religiusnya dan masih dirayakan dengan disertai slametan. Kepekaan orang Jawa terhadap dimensi empiris dunia gaib menemukan ungkapannya dalam berbagai cara misalnya dalam upacara-upacara adat.


Dalam tradisi itu termuat bagaimana harus bersikap untuk tetap dalam keselarasan dengan alam raya dan dengan roh-roh yang mengelilinginya.
Walaupun ritus-ritus atau upacara tersebut sekarang ini semakin berkurang tetapi petani dalam manifestasi penghormatan terhadap Dewi Padi masih dilakukan dengan membuat sesaji secara sederhana. Upacara ritual atau slametan yang masih dilaksanakan terkait dengan penghormatan kepada Dewi Sri antara lain adalah Tingkeb Tandur dan Methik. Ritual yang dilakukan ketika padi berumur dua bulan oleh sebagian masyarakat petani adalah slametan Tingkeb Tandur


Secara harafiah kata tingkeb berarti slametan mitoni. Istilah mitoni adalah upacara yang dilakukan pada saat usia kandungan seorang wanita genap tujuh bulan. Slametan ini bertujuan agar bayi lahir dengan selamat.
Jadi kata ‘tingkeb’ yang artinya slametan mitoni, dan kata tandur yang artinya menanam dimaksudkan sebagai upacara yang terkait dengan usia hamil tanaman padi. Upacara Tingkeb Tandur dilaksanakan oleh masyarakat petani dilatarbelakangi oleh kondisi lahan di desa tersebut yang rawan terhadap bencana banjir dan kekeringan.


Oleh kondisi lahan seperti itu, petani di dalam mengolah sawahnya harus telaten dan selalu berharap alam lingkungan memihak kepadanya. Oleh sebab itu keberhasilan petani di dalam mengolah sawahnya, dari proses menanam padi sampai padi akan mrekatak (keluar malainya secara bersama sama) dan kemudian meteng atau hamil, dianggap merupakan anugerah dari Yang Di Atas dan perlindungan dari Dewi Sri. Atas dasar itu kemudian ditingkebi supaya padi yang hamil selamat sampai panen nanti.


Jadi upacara Tingkep Tandur merupakan ungkapan rasa syukur petani kepada Yang Di Atas, pencipta alam semesta yang telah memberikan rezeki dan perlindungan kepada petani. Ungkapan rasa syukur
karena tanaman padi mereka sudah berbuah juga ditujukan kepada Dewi Sri, dewi padi.
Dewi Sri adalah tokoh mitos yang lekat dengan kehidupan petani, yang diyakini sebagai pelindung dan penjaga padi milik petani. Oleh karenanya masyarakat petani meyakini bahwa melaksanakan upacara ini merupakan syarat untuk keberhasilan panen.


Dalam prosesi upacara tersebut disertakan sesaji dan perlengkapan upacara. Upacara methik atau panen padi pertama dilakukan sebagai penghormatan kepada Dewi Sri yang telah menjaga padi sampai lahir atau panen. Upacara menuai padi yang pertama kali (atau disebut wiwit atau methik) ini, dilakukan dengan prosesi upacara memotong tangkai padi dan kemudian dibalut dengan kain putih seperti pengantin. Padi yang dipotong tersebut dinamakan parijatha.
Tangkai padi kemudian dibawa ke empat sudut petak sawah yang akan dituai setelah itu padi dibawa pulang dan disimpan ke dalam lumbung.


Ritual methik pada umumnya dilaksanakan dengan pola umum yang hampir sama dari daerah ke daerah. Satu atau dua hari sebelum panen dimulai, dhukun methik membawa sesajian ke sawah dan mengitari sawah tersebut satu kali putaran searah jarum jam, lalu menuju ke bagian tengah di mana dipilih suatu tempat sebagai titik focus ritus methik. Setelah membaca suatu mantra ia segera memotong beberapa tangkai padi dan menganyamnya. Kepangan atau anyaman tangkai padi tersebut lalu digendong oleh dhukun, dipayungi layaknya seperti bayi. 


Jadi dalam prosesi methik yang berperan adalah dhukun methik. Tangkai-tangkai padi yang dipotong dengan jumlah yang disesuaikan dengan perhitungan Jawa, kemudian dikepang (dianyam) yang mentransformasikan kepangan tangkai-tangkai padi tersebut sebagai pengantin Sri. Sesajian dipersembahkan atas nama Dewi Sri, dan hingga benih padi sebagai figur Dewi Sri menjadi kering, yang selanjutnya akan disertakan untuk ditanam pada musim-musim kemudian.


Padi yang terkandung dalam figure ‘Sri’ tersebut tidak pernah dikosumsi. Ritus methik ini menunjukkan bahwa Mbok Sri pelindung spiritual atas satu dunia kehidupan pertanian dan kerumahtanggaan Jawa.
Pengepangan tangkai padi menjadi pengantin ‘Sri’ adalah suatu proses generasi yang bertalian dengan ranah reproduksi manusia, dan juga reproduksi pertanian. Melalui substitusi mitologis, figur ‘Sri’ mempresentasikan suatu surplus di mana simpanan padi dari satu panen hasilnya melimpah dalam panen berikutnya.



Pernikahan


Kehadiran figur Dewi Sri juga tampak dalam upacara pernikahan, di mana pertalian antara reproduksi pertanian dan reproduksi manusia berada dalam ritus kedua dari rangkaian ritus temu pengantin.
Pengantin perempuan dan pengantin lakilaki bersama-sama melangkahi sebuah bajak yang ditempatkan di ambang pintu masuk rumah di mana upacara pernikahan tersebut diselenggarakan. Ritus menggunakan bajak sedikit banyak meretensi pertaliannya dengan proses reproduksi Sri.
Di bajak tersebut tertera tanda-tanda dari kapur mengenai ramalan yang bertalian dengan reproduksi manusia dan reproduksi pertanian. Bajak yang digunakan untuk ritus pernikahan itu secepatnya kemudian digunakan untuk mengolah lahan sawah, supaya dapat ‘memberikan berkah’ kepada sawah dengan panen yang melimpah.


Jadi ada hubungan simbol kesuburan antara manusia dengan pertanian. Seperti diketahui pada alat pertanian bajak (yang digunakan untuk upacara pengantin) biasanya tertera suatu perhitungan yang bertalian dengan reproduksi manusia; maknanya adalah ramalan yang bertalian antara reproduksi manusia (anak keturunan), dan juga reproduksi pertanian (kesuburan tanah). 
Pada saat panen padi melimpah, di desa desa biasanya diadakan upacara sedhekah bumi. Dalam rangkaian upacara sedhekah bumi tersebut, ada yang menyertakan penari tayub sebagai personifikasi penghormatan kepada Dewi Sri. Dalam tarian ritual itu penari tayub menyiapkan sesaji yang diantaranya terdapat seuntai padi yang diletakkan di tempat di mana dia menari. Untaian padi tersebut sebagai simbol Dewi Sri yang diyakini akan memberi pancaran figurnya kepada penari tayub.


Pengejawantahan yang bertalian dengan figur Sri juga dalam acara midodareni.


Oleh dhukun wanita dalam suatu upacara pernikahan pengantin wanita berusaha ditampilkan oleh dhukun tersebut sebagai pengejawantahan yang bertalian dengan dunianya Dewi Sri yang menyimbolkan kesuburan. Pada malam midodareni menurut keyakinan dhukun pengantin, terjadi proses substitusi yang mentransformasi sang pengantin perempuan menjadi figur Dewi Sri.


Disebut oleh Pamberton bahwa ritus ritus dalam pernikahan pada dasarnya sama dengan kekuatan-kekuatan yang mengaktifkan adat-istiadat pemetikan hasil panen sawah. Pada umumnya orang menyebutkan ritus panen atau methik dikatakan sebagai ‘pernikahan tangkai padi’. Ritus ini berkaitan dengan cerita Sri Sadhana yang terkenal itu.


Dewi Sri Dalam Ritus Mitoni
Pada saat kehamilan seorang perempuan mencapai usia tujuh bulan, maka untuk menjaga keselamatan bayi yang ada dalam kandungan, dalam tradisi Jawa terdapat upacara yang disebut mitoni atau tingkeban.
Ketika kehamilan seorang perempuan berusia tujuh bulan, dalam kepercayaan orang Jawa kehamilan berumur tujuh bulan dianggap umur yang ‘rawan’ terhadap bebendu (bencana) atau tahap yang mengharuskan perempuan hamil tersebut harus hati-hati dalam menjaga kehamilannya supaya lahir sesuai waktunya. 
Ada kepercayaan kehamilan umur tujuh bulan dianggap usia kehamilan tua, namun rasionalisasi dari kepercayaan ini tidak ada penjelasannya. Oleh sebab itu kemudian diadakan ritus-ritus mitoni.


Dalam upacara mitoni ini, ada yang diselenggarakan secara lengkap atau besar, ada yang sederhana, dengan membuat slametan. Pada masa dahulu, prosesi berganti pakaian tujuh kali setelah upacara mandi, dilaksanakan di depan senthongtengah, atau pasren. Sekarang prosesi upacara tersebut bisa dilaksanakan di ruang tengah atau di ruang mana saja tidak harus di depan senthong tengah. 
Demikian juga pada upacara brojolan yang menggunakan dua buah cengkir gadhing, bisa dilaksanakan di tempat upacara mandi atau di ruang tengah. 


Dua buah cengkir gadhing tersebut masing-masing digambari tokoh-tokoh yang sudah akrab dalam mitos dongeng-dongeng Jawa, misalnya Kamajaya-Kamaratih, Panji Candrakirana, atau Wisnu-Sri. Upacara mitoni yang dilaksanakan di senthong tengah merupakan simbolisasi Sri sebagai dewi kesuburan, dan penggambaran sebuah tahap kehidupan yang harus dilalui
oleh seorang perempuan yang mempunyai tugas mereproduksi generasi ke generasi.


Upacara tersebut sekaligus juga sebagai simbol permohonan untuk keselamatan kehamilan dan kelahiran si bayi sesuai dengan gambaran yang ada dalam dua buah kelapa cengkir gadhing. Dua buah cengkir gadhing tersebut di samping sebagai simbol tunas muda, juga sebuah simbol permohonan, bila bayi lahir nanti diharapkan seperti yang telah digambarkan dalam dua cengkir gadhing tersebut. 
Ukiran gambar dalam cengkir gadhing tersebut merupakan personifikasi hadirnya sepasang dewa-dewi yang mengandung harapan si bayi tidak hanya lahir ‘cantik’ (bila perempuan), dan ‘bagus’ (bila laki-laki) seperti halnya Sri-Wisnu, atau Kamajaya-Kamaratih, tetapi juga memiliki sifat-sifat seperti dewa-dewi
tersebut.



Penutup


Cerita Sri-Sadhana merupakan ungkapan dari struktur berfikir petani Jawa dalam mereka memperlakukan tanah pertaniannya, yang diyakini secara mitis bahwa keberlangsungan usaha pertaniannya tergantung kepada keberadaan Dewi Sri penjaga sawah tempat sumber kehidupan mereka. Bahwa asal-usul benih kehidupan berasal dari dunia atas (dewa) dan yang diberikan kepada dunia bawah (manusia), maka untuk menjaga kelangsungan benih kehidupan itu, dan menjaga keserasian hubungan antara dunia atas dengan dunia bawah petani mengadakan ritus-ritus upacara.


Dalam proses pelestariannya dilaksanakan dari waktu ke waktu dengan menyesuaikan situasi dan kondisi masyarakat pendukungnya.
Ritus-ritus atau upacara yang dilakukan manusia itu pada umumnya untuk memuja, menghormati, dan memohon keselamatan kepada nenek-moyang dan Tuhannya, yang merupakan kelakuan simbolis manusia untuk memohon keselamatan yang diatur oleh adat yang berlaku. Dalam visualisasinya ritus-ritus itu selalu disertai dengan doa, sesaji, dan slametan atau kenduri.


Mitos Dewi Padi, Dewi Kesuburan atau Dewi Sri sampai sekarang masih tetap hidup. Visualisasi pemujaan terhadap Dewi Sri diekspresikan dalam bentuk upacara, slametan seperti upacara tingkeb tandur, methik, maupun kehadiran figur Sri yang diyakini berada di dalam senthong tengah, atau dalam prosesi perkimpoian yang disebut midodareni.


Bagi orang Jawa alam empiris berhubungan erat dengan alam gaib, kepekaan orang Jawa terhadap dimensi dunia gaib dunia empiris tersebut diungkapkan dengan berbagai cara misalnya adanya upacara pertanian untuk mensiasati kelangsungan hubungan tersebut. Di dalam hubungannya dengan kepercayaan ini petani tradisional Jawa sangat memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan spiritual.


Dua hal yang mendasari petani untuk mengadakan ritus-ritus pertanian adalah keinginan untuk memperoleh keselamatan dalam melaksanakan pekerjaan pertanian, dan kepercayaan bahwa kehidupan tanaman mulai dari penebaran benih sampai dipanen mempunyai siklus yang sama seperti kehidupan manusia. Dalam hal ini menurut keyakinan petani upacara wiwit dilakukan petani karena tumbuhan padi merupakan jenis tanaman yang kehidupannya sangat tergantung pada penjaga spiritual yang disebut dengan Dewi Sri.


Adanya beberapa peran yang dibawakan oleh figur Sri dalam tradisi Jawa dari generasi ke generasi yaitu sebagai ibu, pengantin, bayi yang digendong dhukun, dan sebagainya, maka melalui personifikasi dalam ritual tersebut Dewi Sri mengejawantahkan peran-perannya sebagai symbol dewi kesuburan.


dari berbagai Sumber


Materi pembekalan di Direktorat Tradisi, Jakarta. Albilladiyah, SI., 1993. “Pemujaan Hariti Pada Masa Klasik di Jawa Tengah dan Persebarannya”. (Draft laporan penelitian). Yogyakarta: BKSNT.
Ball, J.V., 1988. Sejarah dan Pertumbuhan Teori Antropologi Budaya (Hingga decade 1970). Jakarta: Gramedia
Hadiwijono, H., 1987. Agama Hindu dan Budha. Jakarta: BPK.Gunung Mulia.
Harysusanto, PS., 1987. Mitos Menurut Pemikiran Mircea Eliade. Yogyakarta: Kanisius.
Herusatoto, B., 1984. Simbolisme Dalam Budaya Jawa. Yogyakarta: Hanindita.
Magnis Suseno, F., 1989. Etika Jawa: Sebuah Analisa Filsafati Tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. Jakarta: Gramedia.
Pamberton, J., 1989. The Appearance of Order: A Politics of Culture in Colonial and Post colonial Java. A Dessertation Presented to the Faculty of the Graduate School of Cornell University in Partial Fulfillment of the Requirements for the Degree of Doctor of Philosophy.
Rahmanto, B. “Ke Arah Pemahaman Lebih Baik Tentang Mitos”, dalam Basis. No. 2, Tahun 1993 Yogyakarta.
Santiko, H., 1980. “Dewi Sri di Jawa”, Makalah pada Pertemuan Ilmiah Arkeologi. Jakarta: Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional. Departemen P dan K.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SEMANGAT PAGI....SUKSES Untuk SEMUA
JIKA ANDA PIKIR BISA PASTI BISA..!
Maaf apabila dalam pengambilan GAMBAR dirasa VULGAR
(Gambaran ini Hanyalah FAKTA sesuai dengan ASLINYA)
dan TIDAK Mutlak untuk diperdebatkan......................!!!

KALAU MAU DONATUR ( SEDEKAH )

Sedekah (Bisa Menunda Kematian)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
KLIK GAMBAR UNTUK MEMBESARKAN dan MASUK LINKnya

KOLEKSI HASIL SKRIPSI for MAHASISWA 100%FREE
  • KLCK aja ICON dibawah untuk Baca berita