PRIMBON RAMALAN JODOH



DAFTAR SAHABAT YG MASUK The truth seeker
Tidak harus menjadi yang pertama,yang penting itu menjadi orang yang melakukan sesuatu dengan sepenuh hati.
HTML Counter

Sejak : 17 Agustus 2011

ISI DI BLOG INI HANYA GAMBARAN-GAMBARAN HIDUP YANG HAKIKI
Dan Merupakan Album yang berisi catatan yang saya tulis dalam perjalanan waktu.
Catatan yang terinspirasi dari apa yang saya lihat, saya baca, saya dengar, dan saya rasakan
MAAF JIKA GAMBAR GAMBAR yang kami Ambil Dirasa FULGAR dan UNCENCORED
Disclaimer: Artikel, gambar ataupun video yang ada di blog ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain,
dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain tersebut. Jika kami salah dalam menentukan sumber yang pertama, mohon beritahu kami

e-mail primbondonit@gmail.com HOTLINE SMS 0271 9530328
GAMBAR-GAMBAR dibawah ini BUKAN HANYA IKLAN tapi merupakan LINK SUMBER


Bagi sebagian masyarakat yang mengklaim diri sebagai masyarakat peradaban modern, westernism bahkan sebagian yang mengesankan perilaku agamis yakni hanya bermain-main sebatas pada simbol-simbol agama saja tanpa mengerti hakekatnya, dan kesadarannya masih sangat terkotak oleh dogma agama-agama tertentu. Manakala mendengar istilah mistik, akan timbul konotasi negatif. Walau bermakna sama, namun perbedaan bahasa dan istilah yang digunakan, terkadang membuat orang dengan mudah terjerumus ke dalam pola pikir yang sempit dan hipokrit. Itulah piciknya manusia yang tanpa sadar masih dipelihara hingga akhir hayat. Selama puluhan tahun, kata-kata mistik mengalami intimidasi dari berbagai kalangan terutama kaum modernism, westernisme dan agamisme. Mistik dikonotasikan sebagai pemahaman yang sempit, irasional, dan primitive. Bahkan kaum mistisisme mendapat pencitraan secara negative dari kalangan kaum modern sebagai paham yang kuno, Pandangan itu salah besar. Tentu saja penilaian itu mengabaikan kaidah ilmiah. Penilaian bersifat tendensius lebih mengutamakan kepentingan kelompoknya sendiri, kepentingan rezim, dan kepentingan egoisme (keakuan). Penilaian juga rentan terkonaminasi oleh pola-pola pikir primordialisme dan fanatisme golongan, diikuti oleh pihak-pihak tertentu hanya berdasarkan sikap ikut-ikutan, dengan tanpa mau memahami arti dan makna istilah yang sesungguhnya. Apalagi dalam roda perputaran zaman sekarang, di mana orang salah akan berlagak selalu benar. Orang bodoh menuduh orang lain yang bodoh. Emas dianggap Loyang. Besi dikira emas. Yang asli dianggap palsu, yang palsu dibilang asli. Semua serba salah kaprah, dan hidup penuh dengan kepalsuan-kepalsuan. Untuk itulah Warisjati merangkum beragam artikel dari beberapa sumber tentang pengetahuan Budaya dan tradisi di Nusantara yang merupakan warisan para leluhur yang sarat akan makna dan berbagai artikel lainnya yang saling melengkapi. Dengan harapan membangun sikap arif dan bijaksana dan mengambil pelajaran serta pengetahuan dari budaya masa lalu sebagai warisan leluhur di Nusantara ini.

ORANG YANG DENGAN MUDAHNYA MENGATAKAN SESAT KEPADA SESEORANG
ADALAH ORANG YANG TIDAK atau BELUM PAHAM AKAN DIRINYA SENDIRI

Cari Disini Artikel Yang ANDA INGINKAN INSYA ALLAH ada di BLOG INI

Rabu, 10 Agustus 2011

Pesugihan Gunung Kawi


Pesugihan Gunung Kawi
Dalam masalah pesugihan, sebelumnya pernah membahas tentang Ritual Mesum Pesugihan Gunung Kemukus, kali ini membahas mitos seputar Pesugihan Gunung Kawi. Disaat orang banyak disibukkan dengan kesulitan ekonomi, kadang semua cara digunakan termasuk diantaranya adalah ritual pesugihan.

Ada yang mencari uang dengan bisnis internet, namun karena tidak sedahsyat denga pesugihan maka bagi orang yang malas akhirnya lebih memilih pesugihan. Mitos Pesugihan Gunung Kawi memang dikenal sebagai tempat untuk mencari kekayaan (pesugihan).
Gunung Kawi merupakan salah satu tempat wisata ritual yang berada di Desa Wonosari. Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Secara geografis pesarean Gunung Kawi berada kira-kira 30 Km disebelah barat kota Malang, menuju ke selatan kota Kepanjen, selanjutnya kearah barat menuju ke wisata Gunung Kawi. Di bawah lereng terlihat dua patung raksasa sebagai penjaga pintu gerbang. Dan kemudian masuk melalui gapura 1 kemudian gapura 2 dan gapura 3 hingga berada di pelataran pesarean Gunung Kawi.

Konon, barang siapa melakukan ritual dengan rasa kepasrahan dan pengharapan yang tinggi maka akan terkabul permintaannya, terutama menyangkut masalah kekayaan. Mitos seputar pesugihan Gunung kawi ini diyakini banyak orang, terutama oleh mereka yang sudah merasakan "berkah" berziarah ke Gunung Kawi. Namun bagi kalangan rasionalis-positivis, hal ini merupakan isapan jempol belaka.

Biasanya lonjakan pengunjung yang melakukan ritual terjadi pada hari Jumat Legi (hari pemakaman Eyang Jugo) dan tanggal 12 bulan Suro (memperingati wafatnya Eyang Sujo). Ritual dilakukan dengan meletakkan sesaji, membakar dupa, dan bersemedi selama berjam-jam, berhari-hari, bahkan hingga berbulan-bulan.

Di dalam bangunan makam, pengunjung tidak boleh memikirkan sesuatu yang tidak baik serta disarankan untuk mandi keramas sebelum berdoa di depan makam. Hal ini menunjukkan simbol bahwa pengunjung harus suci lahir dan batin sebelum berdoa.

Selain pesarean sebagai fokus utama tujuan para pengunjung, terdapat tempat-tempat lain yang dikunjungi karena 'dikeramatkan' dan dipercaya mempunyai kekuatan magis untuk mendatangakan keberuntungan, antara lain:

1. Rumah Padepokan Eyang Sujo
Rumah padepokan ini semula dikuasakan kepada pengikut terdekat Eyang Sujo yang bernama Ki Maridun. Di tempat ini terdapat berbagai peninggalan yang dikeramatkan milik Eyang Sujo, antara lain adalah bantal dan guling yang berbahan batang pohon kelapa, serta tombak pusaka semasa perang Diponegoro.

2. Guci Kuno

Dua buah guci kuno merupakan peninggalan Eyang Jugo. Pada jaman dulu guci kuno ini dipakai untuk menyimpan air suci untuk pengobatan. Masyarakat sering menyebutnya dengan nama 'janjam'. Guci kuno ini sekarang diletakkan di samping kiri pesarean. Masyarakat meyakini bahwa dengan meminum air dari guci ini akan membuat seseorang menjadi awet muda.

3. Pohon Dewandaru

Di area pesarean, terdapat pohon yang dianggap akan mendatangkan keberuntungan. Pohon ini disebut pohon dewandaru, pohon kesabaran. Pohon yang termasuk jenis cereme Belanda ini oleh orang Tionghoa disebut sebagai shian-to atau pohon dewa. Eyang Jugo dan Eyang Sujo menanam pohon ini sebagai perlambang daerah ini aman.

Untuk mendapat 'simbol perantara kekayaan', para peziarah menunggu dahan, buah dan daun jatuh dari pohon. Begitu ada yang jatuh, mereka langsung berebut. Untuk memanfaatkannya sebagai azimat, biasanya daun itu dibungkus dengan selembar uang kemudian disimpan ke dalam dompet.

Namun, untuk mendapatkan daun dan buah dewandaru diperlukan kesabaran. Hitungannya bukan hanya, jam, bisa berhari-hari, bahkan berbulan-bulan. Bila harapan mereka terkabul, para peziarah akan datang lagi ke tempat ini untuk melakukan syukuran.

Siapakah sesungguhnya Eyang Jugo dan Eyang Sujo?

Mungkin tidak sedikit orang yang bertanya siapakah gerangan kedua orang yang dimakamkan di Gunung Kawi itu ?

Pesarean Gunung Kawi berisi dua jenazah yang dimakamkan berjajar dalam satu liang lahat. Yang pertama adalah Kanjeng Kyai Zakaria II, yang lebih dikenal dengan nama Mbah Djoego, seorang ulama terkenal dari keraton Mataram Surakarta. Kemudian yang kedua adalah Raden Mas Iman Soedjono, seorang bangsawan yang menjadi Senopati / Panglima perang dari Keraton Yogyakarta.

Riwayat hidup Kyai Zakaria II dapat ditelusuri berdasarkan Surat Keterangan yang dikeluarkan oleh Pangageng Kantor Tepas Darah dalem Kraton Yogyakarta Hadiningrat nomor : 55/TD/1964 yang ditandatangani oleh Kanjeng Tumenggung Danoehadiningrat pada tanggal 23 Juni 1964. Dalam surat itu diterangkan silsilah Kyai Zakria II atau Mbah Djoego adalah sebagai berikut :
Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Susuhunan Paku Buwana I ( Pangeran Puger ) – memerintah Kraton Mataram tahun 1705 sampai 1719 – berputra Bandoro Pangeran Haryo(BPH) Diponegoro. Pangeran ini mempunyai putera Kanjeng Kyai Zakaria I. Beliau adalah seorang Ulama besar dilingkungan keraton Kartasura pada saat itu. Kemudian bangsawan Ulama tenar tersebut berputera RADEN MAS SOERYOKOESOEMO atau RADEN MAS SOERYODIATMODJO atau mudanya sudah menunjukkan minat yang besar untuk mempelajari hal – hal dibidang keagamaan (Islam). Setelah dewasa, karena kemampuannya yang mumpuni dan ketekunannya dalam mempelajari hal – hal keagamaan, atas perkenan Kanjeng Susuhunan Paku Buwana V, Raden Mas Soeryo Koesoemo mengubah namanya sesuai “peparing Dalem Asmo” (Pemberian Nama oleh Sunan), nunggak semi dengan ayahandanya, menjadi Kanjeng Kyai Zakaria II Jadi, Raden Mas Soeryo Koesoemo atau Raden Mas Soeryodiatmodjo itulah Kanjeng Kyai Zakaria II.

Belakangan dalam pengembaraannya ke daerah Jawa Timur, sesudah Pangeran Diponegoro atau Pangeran Ontowiryo sebagai pemimpin tertinggi dalam perjuangan melawan penjajah ditangkap oleh Belanda di Magelang, Kyai Zakaria II berganti nama. Beliau tidak lagi menggunakan nama bangsawan atau ulama keraton yang sudah terkenal itu, melainkan nama seperti rakyat biasa. Mungkin dengan tujuan agar identitasnya tidk diketahui oleh orang lain, terutama pihak Belanda. Nama yang beliau pergunakan adalah Mbah SADJOEGO atau singkatnya Mbah DJOEGO. Sesudah meninggal beliau dimakamkan di Gunung Kawi. Sesuai dengan wasiat beliau tatkala masih hidup.

Sedangkan silsilah Raden Mas Iman Soedjono, agaknya tercatat lebih lengkap. Bukti autentiknya terdokumentasikan dalam Surat Kekancingan ( Surat Bukti Silsilah ) dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang dimiliki oleh Raden Asim Nitirejo, cucu Raden Mas Iman Soedjono. Surat tersebut tertulis dalam huruf Jawa bernomor 4753, dikeluarkan tanggal 23 Juni 1964. Dalam surat tersebut diterangkan silsilah kelahiran Raden Mas Iman Soedjono sebagai berikut :

Ngarso Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono I – memerintah Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat sejak tahun 1755 sampai dengan tahun 1792 – pada waktu kecilnya bernama Bendoro Raden Mas Soedjono ( lihat buku Pustaka Raja Putra Kraton Ngayogyakarta ). Dengan istri beliau yang bernama Bendoro Raden Ayu Dayo Asmoro, berputera Bendoro Pangeran Aryo (BPA) Balitar.

Pangeran Balitar kemudian berputera Kanjeng Raden Ayu Tumenggung (KRAT) Notodipo (lihat buku silsilah Paguyuban Trah Balitaran, terbitan tahun 1933 dengan huruf Jawa).

Kemudian Raden Mas Iman Soedjono menikah dengan salah seorang anggota lasykar “LANGEN KOESOEMO”, Prajurit wanita dari lasyakar Pangeran Diponegoro. Lasykar ini dipimpin oleh senopati – senopati wanita yang terkenal, yakni Raden Ayu Ratnaningsih ( istri Pangeran Diponegoro ). Prajurit wanita yang diperistri oleh Raden Mas Iman Soedjono bernama Raden Ayu Saminah. Sehari – hari dalam kelasykaran Langen Koesoemo maupun dalam kelasykaran Diponegoro, Raden Ayu Saminah biasa dipanggil Nyi Djuwul.

Pasangan Raden Mas Iman Soedjono dan Raden Ayu Saminah dikarunia seorang putri yang cantik, luwes dan berperangai lembut. Walaupun dilahirkan dilingkungan pedesaan, putri yang satu ini tidak tampak seperti anak desa pada umunya : Pamor Kebangsawanannya kentara sekali. Oleh sebab itu putri ini dinamakan Raden Ayu Demes.
Setelah dewasa Raden Ayu Demes oleh ibundanya dinikahkan dengan kemenakan Ki Kasijo, pengikut terdekat dan terpercaya Raden mas Iman Soedjono. Kemenakan Ki Kasijo itu bernama Tarikun Karyoredjo, berasal dari Tuban.

Pernikahan Tarikun Karyoredjo dengan Raden Ayu Demes menurunkan dua orang anak laki – laki : Raden Asim Nitiredjo dan Raden Yahmin Wihardjo. Keduanya sejak tahun 1946 hingga tahun 1997 menjadi Juru Kunci Pesarean Gunung Kawi. Mulai tahun 1997 hingga sekarang Juru Kunci Pesarean Gunung Kawi Adalah H.R. Soepodojono, R.Supratikto, dan H.R. Tjandra Jana.
Akhirnya Raden Asim Nitirejo menurunkan tiga orang anak. Masing – masing bernama :

1. Raden Nganten Tarsini
2. Raden Soepodoyono
3. Raden Soelardi Soeryowidagdo

Sedangkan Raden Yahmin Wihardjo menurunkan seorang anak laki – laki bernama Raden Soepratikto.

Jika ditelusur hingga keakar – akar silsilahnya, jelaslah bahwa Juru Kunci Pesarean Gunung Kawi masih mempunyai ikatan darah yang cukup dekat dengan Raden Mas Iman Soedjono yang dimakamkan di Gunung itu. Tidak menherankan pula jika para kerabat Kraton Yogyakarta sering memegang peranan penting dalam upacara – upacara tradisional di Gunung Kawi. Misalnya pada saat upacara Tahlil Akbar pada bulan suro. Meskipun demikian kerjasama dengan para kerabat lainnya tetap terjalin dengan baik, dan hubungan kekeluargaan tetap terjaga dengan guyub.

Kanjeng Kyai Zakaria II atau Mbah Djoego dan Raden Mas Iman Soedjono, yang sehari – harinya dikenal dengan sebutan mbah Kromoredjo, sebenarnya adalah bhayangkara terdekat Pangeran Diponegoro atau Pangeran Ontowiryo atau sebutannya yang lain Sultan Heru Tjokro Sayidin Panetep Panotogomo Kalifatullah. Beliau berperang melawan kompeni Belanda pada tanggal 20 Juli 1825 sampai pada tanggal 28 Maret 1830.

Pada saat Pangeran Diponegoro terjepit dalam perundingan dengan Kompeni Belanda dibawah pimpinan Jenderal De Kock di Magelang pada tanggal 28 Maret 1830, beliau menyadari bahwa beliau akan ditangkap. Sebagai seorang pimpinan perjuangan yang bertanggung jawab, maka sebagai upaya final, beliau mengajukan tuntutan akhir, yaitu beliau bersama keluarga terdekat bersedia ditangkap, asalkan bhayangkara dan seluruh lasykar bersama keluarganya dibebaskan, dan diberi kesempatan pulang kedaerah asalnya masing masing. Bila tuntutan itu tidak dipenuhi, dengan keterbatasan personil dan senjata, Pangeran Diponegoro bertekad akan berperang habis – habisan.

Menyadari bahwa kharisma Pangeran Diponegoro didaerah pedalaman Kraton Jogya dan Solo sangat besar, dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Kompeni Belanda memenuhi tuntutan tersebut. Setelah kalah dalam perundingan yang licik dan tidak terhormat itu, selanjutnya oleh pihak Belanda Pangeran Diponegoro ditangkap di Magelang, kemudian dibawa ke Batavia. Selanjutnya beliau diasingkan ke Menado dan terakhir dipindahkan ke Makasar. Akhirnya beliau wafat didalam Benteng Rotterdam di Ujung Pandang ( Kota Makasar waktu itu ) pada tanggal 8 januari 1955 ( lihat buku mengenai Perang Diponegoro karangan Mr. Moh. Yamin, juga pada buku Pahlawan Diponegoro Berjuang karangan Sagimun).

Setelah peristiwa penangkapan di Magelang terseut, kemudian para pengikutnya pecah menjadi tiga golongan, yaitu :

Golongan yang lemah iman perjuangannya.
Mereka ini adalah kelompok yang menyerahkan dan mau bekerjasama dengan Belanda
Golongan extrim militant
Yang termasuk dalam golongan ini adalah mereka yang tetap melanjutkan perjuangan bersenjata secara gerilya dan sporadis. Mereka banyak bertahan di daerah – daerah pegunungan selatan, mulai dari daerah Yogyakarta sampai Banyuwangi. Hal ini dapat dibuktikan bahwa sampai sekarang, di kota – kota yang menajdi jalur perjuangan bersenjata sisa – sisa lasykar Diponegoro tersebut, tetapi terdapat perkampungan yang namanya Mentaraman. Artinya kampung tempat tinggal khusus orang – orang yang berasal dari daerah Kraton Mentaram atau Yogyakarta.
Eskapisme. Artinya golongan yang berpandangan luas jauh kedepan, yaitu mereka yang masih dilandasi oleh sifat – sifat patriotisme yang tinggi tetapi pola berpikirnya cukup bijak, berdasar pada logika dan penuh perhitungan yang cermat. Sisa – sisa lasykar Diponegoro yang terhimpun dalam golongan ini menyadari, bahwa saat itu kekuatan Kompeni Belanda dengan kelengkapan persenjataannya lebih modern dari persenjataan pasukan – pasukan lasykar tersebut. Ditunjang pula oleh metode pengelolaan administratif dan disiplin yang ketat oleh pimpinan – pimpinan yang berpendidikan tinggi. Maka diperhitungkan, bahwa agaknya kaum bumi putera masih belum dapat memenangkan perlawanan secara benturan kekuatan fisik dengan Kompeni Belanda. Perjuangan itu masih membutuhkan waktu yang cukup lama bagi bangsa indonesia untuk mengorganisir dan menjalin rasa solidaritas antar suku dan golongan didalam perwujudan persatuan dan kesatuan bangsa yang benar – benar mantap.
Kanjeng Kyai Zakaria II atau Mbah Djoego dan Raden Mas Iman Soedjono ini, termasuk dalam golongan yang ketiga.

Mbah Djoego meninggal dunia diPadepokannya di Desa Sanan Jugo Kecamatan Kesamben Kabupaten Daerah Tingkat II Blitar pada hari ; Minggu Legi malam Senin Pahing pada jam 01.30 tanggal 1 bulan Selo (Zulkhijjah) tahun 1799 Dal.
Saat – saay wafatnya Mbah Djoego diabadikan pada prasasti batu marmer yang terletak didepan pndopo makamnya berbentuk untaian condro sengkolo berbunyi : ARUMING KOESOEMO PINUDYENG JAGAD. Kata – kata dalam condro sengkolo mempunyai makna angka. Arum nilainya 9, Kusuma nilainya 9, Pinudyo nilainya 7 dan Jagad nilainya 1. Selanjutnya angka ini dibaca dari belakang, maka akan terdapat susunan angka 1799 yang merupakan tahun Jawa tersebut diatas, sebagai tahun meninggalnya Mbah Djoego. Adapaun tahun masehinya tercatat tanggal 22 Januari tahun 1971.

Agaknya Mbah Djoego sewaktu masih hidup telah berpesan bahwa bilamana beliau meninggal dunia, agar jenazahnya dikebumikan di Gunung kawi. Maka jenazah almarhum pada Hari Senin Pahing tanggal 22 Jauari 1871 diberangkatkan dari desa Sanan Jugo menuju Desa Wonosari Gunung Kawi untuk dimakamkan. Agaknya perjalanan dari Desa Sanan Jugo menuju Desa Wonosari bukanlah perjalanan yang ringkas dan ringan. Iringan – iringan jenazah harus melalui jalan setapak. Menembus hutan – hutan lebat, lereng – lereng yang terjal dan tebing – tebing yang curam. Karena melewati medan perjalanan yang begitu sulitnya, maka terpaksa iringan – iringan pembawa jenazah itu baru bisa berhenti dan menginap dibeberapa desa. Iring – iringan jenazah itu baru bisa sampai di Desa Wonosari pada hari Rabu Wage tanggal 24 Januari 1971 dan disemayamkan semalam dirumah Raden Mas Iman Soedjono.

Pada pagi harinya, yaitu pada hari Kamis Kliwon tanggal 25 januari 1971, barulah jenazah almarhum Mbah Djoego dimakamkan dengan upacaram kebesaran dengan maksud untuk menghormati jasa dan pengabdiannya semasa hidup. Upacara pemakaman jenazah seromoni dan adat kejawen, sepenuhnya dipimpin langsung oleh Raden Mas Iman Soedjono.
Pada malam harinya, yaitu malam Jum’at Legi, di Pendopo makam Mbah Djoego diselenggarakan “ Tahlil Akbar “.

Adapun Tahlil Akbar ini dihadiri oleh segenap pengikut Raden Mas Iman Soedjono maupun almarhum Mbah Djoego dari segenap penjuru daerah Kabupaten Malang maupun Blitar.

Berawal dengan kejadian itulah, peringatan TahlilAkbar ditradisikan secara naluriah dan berlangsung hingga sekarang, sehingga pada tiap – tiap malam Jum’at Legi jumlah pengunjung Pesarean Gunung kawi lebih banyak dari hari – hari biasanya.

Sepeninggal Mbah Djoego, padepokannya di Kesamben dirawat oleh Ki Tasiman, yaitu orang desa setempat yang pertama kali berjumpa dengan Kanjeng Ktai Zakaria II dalam pengembaraannya di sana. Dalam mengelola rumah padepokan peninggalan Mbah Djoego tadi, Ki Tasiman dibantu oleh beberapa pengikut lain diantaranya Ki Dawud bekas juru rerateng atau tukang menanak nasinya Mbah Djoego, juga Ki Ngapiah dan lain – lain.

Adapun barang – barang peninggalan Mbah Djoego yang dipercayakan perawatan da pemanfaatannya kepada Ki Tasiman turun temurun yaitu berupa : rumah padepokan berikut masjid dan halamannya seluas lebih kurang satu hektar. Sawah dua belas hektar, jubah, pusaka berbentuk tumbak, perlengkapan perang ketika beliau menjadi lasykar Diponegoro, topi, alat – alat pertanian dan tiga buah guci tempat air minum yang dilengkapi dengan filter dari batu. Guci itu dinamakan “janjam”. Suatu ketika, oleh Raden mas Iman Soedjono guci tersebut diboyong ke Gunung Kawi sebanyak dua buah. Sehingga yang dipadepokan jugo sekarang hanya tinggal sebuah saja berikut filternya.
Semenjak sesepuhnya itu meninggal, Raden Mas Iman Soedjono memutuskan untuk menetap di Dusun Wonosari dalam kehidupan sehari – hari disamping mengolah lahan untuk bercocok tanam padi gogoserta tanaman lain seperti : jagung, kaspe atau singkong, pisang, ubi jalar atau ketela rambat, kacang, kopi dan teh. Beliau juga menyempatkan diri merawat dengan tekun pusara Mbah Djoego.
Disamping itu, beliau juga selalu berda’wah kepada para pengikutnya maupun para tamu yang datang ke rumahnya sekaligus berziarah ke makam Mbah Djoego. Petunjuk dan pengarahan yang sering diberikan kepada tamunyaadalah da’wah yang bernafaskan Islam. Penyampaiannya diwujudkan dengan pemberian benda berupa bungkusan kecil yang dinamakan “Saren Sinandi”. Materi Saren Sinandi tersebut berisi sejimpit beras, karag atau nasi kering dan sekeping uang logam.

Kata Sinandi artinya ialah kiasan. Jadi kalau kita ingin mendapat petunjuk yang baik dari Raden Mas Iman Soedjono sebagai sesepuh penerus Almarhum Mbah Djoego kita harus bisa menguraikan arti kiasan barang yang diberikan oleh beliau berupa “Saren Sinandi” tadi. Barang inilah yang setiap tanggal 12 suro, yaitu pada puncak acara peringatan hari wafatnya Raden Mas Iman Soedjono selalu didambakan oleh segenap Pengunjung Gunung Kawi. Saren itu oleh kalangan orang Tionghoa disebut dengan “Ang Pauw”.

Pada hari Selasa Wage malam Rabu Kliwon tanggal 12 suro atau Muharram tahun 1805 Jimawal bertepatan dengan tanggal 8 Februari 1876, Raden Mas Iman Soedjono meninggal dunia tepat pada pukul 24.00 tengah malam. Hal ini pun diabadikan dalam prasasti didepan pendopo makam dalam untaian condro sengkolo yang berbunyi : SWORO SIRNO MANGESTI MANUGGAL. Condro sengkolo tersebut mempunyai arti : Sworo bernilai 5, Sino bernilai 0, Mangesti bernilai 8 dan Manunggal bernilai 1. Jadi susunan angka dalam condro sengkolo tersebut dibalik, akan didapatkan angka 1 8 0 5, yaitu tahun meninggalnya Raden Mas Iman Soedjono.

Kemudian jenazah beliau dikebumikan dalam satu liang lahat dengan almarhum Mbah Mbah Djoego. Hal ini dilakukan sesuai dengan wasiat Mbah Djoego yang pernah menyatakan bahwa bilamana kelak keduanya telah wafat, meminta agar supaya dikuburkan bersama dalam satu liang lahat, mengapa demikian ?

Hal tersebut rupanya mengandung maksud sebagai dua insan seperjuangan yang senasib sependeritaan, seazas dan satu tujuan dalam hidup, sehingga mereka selalu berkeinginan untuk tetap berdampingan sampai ke alam baqa. Disamping itu terdapat beberapa alasan yang mendasari keinginan itu, ialah :

Kedua beliau itu adalah sejawat seperjuangan mulai dari titik awal, dalam suasana duka maupun suka, semasa bersama – sama bergabung dalam lasykar Diponegoro sampai pada titik terakhir.
Mbah Djoego tidak beristri apalagi berputra.
Raden Mas Iman Soedjono sudah dinyatakan sebagai Putra Kinasih serta penerus kedudukan Mbah Djoego ( sebagai pengganti Mbah Djoego ).

Namun di sisi lain, motif para pengunjung yang datang ke pesarean ini pun sangat beragam pula. Ada yang hanya sekedar berwisata, mendoakan leluhur, melakukan penelitian ilmiah, dan yang paling umum adalah kunjungan ziarah untuk memanjatkan doa agar keinginan lekas terkabul.

Wisata Ziarah Pesugihan Gunung Kawi

"Gunung tidak perlu tinggi asal ada dewanya."

Pepatah populer di kalangan warga Tionghoa ini bisa menjelaskan kenapa Gunung Kawi di Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, sangat populer. Kawi bukan gunung tinggi, hanya sekitar 2.000 meter, juga tidak indah. Tapi gunung ini menjadi objek wisata utama masyarakat Tionghoa.

Tiap hari ratusan orang Tionghoa, termasuk orang pribumi naik ke Gunung Kawi. Masa liburan plus cuti bersama Lebaran ini sangat ramai. Karena terkait dengan kepercayaan Jawa, Kejawen, maka kunjungan biasanya dikaitkan dengan hari-hari pasaran Jawa: Jumat Legi, Senin Pahing, Syuro, dan Tahun Baru.

"Pokoknya selalu ramai, Mas," ujar Syaikoni (nama samaran) salah satu seorang pemandu wisata. Syaikoni memang tidak salah, saat berjalan kaki sejauh satu kilometer menuju pusat wisata utama (makam dan kelenteng), terlihat lautan manusia. Macam pasar malam. Pengemis ada sekitar seratus orang (anak-anak sampai orang tua). Toko-toko souvenir berdempetan hingga pesarehan.

Penginapan, kata Syaikoni, lebih dari 10 buah, dengan tarif Rp 30.000 hingga Rp 200.000. Restoran Tionghoa yang menawarkan sate babi dan makanan tidak halal (buat muslim) cukup banyak. Tukang ramal nasib. Penjual kembang untuk nyekar. Penjual alat-alat sembahyang khas Tionghoa. Belum lagi warung nasi dan sebagainya.

"Gunung kok ramai begini kayak di kota?" tanya salah seorang pengunjung yang baru pertama kesana pada Syaikoni.

"Gunung Kawi yang begini ini. Fasilitasnya sudah direnovasi oleh yayasan, ya, pakai uang sumbangan pengunjung. Mereka yang dapat rezeki, usahanya lancar, sumbang macam-macam. Akhirnya, dibuat bagus seperti sekarang," tutur Syaikoni, 33 tahun, asli Wonosari.

Dia sudah beberapa tahun menjadi pemandu wisata sekaligus pembawa barang-barang pengunjung. Syaikoni tahu banyak seluk-beluk Gunung Kawi. Usai kunjungan, kita bebas memberikan tips kepadanya. Tidak pakai tarif-tarifan buat guide ala Gunung Kawi.

Apa yang dicari orang-orang di Gunung Kawi? Kekayaan? Rezeki? Usaha lancar? Macam-macam niat orang. "Ya, kita olang mo beldoa semoga dikasih rejeki. Pokoke, usaha kita olang lancal lah," ujar seorang ibu asal Surabaya dengan logat khasnya tionghoa.

Jawaban sejenis disampaikan pengunjung lain. Karena itu, warga Jawa Timur kerap mencitrakan Gunung Kawi sebagai tempat pesugihan. Tapi, bagi kalangan kejawen, penggiat budaya Jawa, Gunung Kawi lebih dilihat sebagai tempat pelestarian budaya Jawa. Banyak ritual kejawen diadakan di sini secara teratur dan diikuti aktivis budaya Jawa di seluruh Pulau Jawa.

Kalau masuk makam dua makam tokoh yang telah dijelaskan diatas, pengunjung harus membeli kembang. Sebelumnya, bayar retribusi untuk Desa Wonosari Rp 2.000. Lalu, menyerahkan KTP (kartu tanda penduduk) atau identitas lain pada satpam untuk didaftar nama dan alamat. Sumbang lagi uang tapi sukarela. Jangan kaget kalau anda menjumpai banyak sumbangan atau retribusi di aset wisata Kabupaten Malang ini.
Saat saya masuk ke kompleks Gunung Kawi, hampir 99 persen warga keturunan Tionghoa. Anak-anak, remaja, profesional muda, hingga kakek-nenek. Orang-orang itu bersembahyang layaknya di kelenteng. Masuk ke makam, jalan keliling makam, sambil membuat gerakan menyembah macam di kelenteng. Tidak ada arahan atau instruksi, mereka semua melakukan gerakan-gerakan itu.

Hampir tidak ada Tionghoa itu yang beragama Islam. Kok begitu menghormati dan sembahyangan di depan makam Imam Soedjono dan Mbah Djoego? Apa mereka tahu siapa yang dimakamkan di situ? Belum lagi kalau kita bahas secara teologi Islam atau Kristiani tentang boleh tidaknya melakukan ritual di Gunung Kawi.

"Memang, Mas, semua orang yang datang pertama kali di Gunung Kawi pasti bertanya begitu. Saya juga nggak tahu kenapa. Yang jelas, sejak dulu ya begitu. Kalau sudah tradisi dan kepercayaan orang, ya, mau apa lagi?" kata Syaikoni dengan sangat sopan.

Para pemandu wisata di Gunung Kawi berusaha tidak menyinggung kepercayaan atau agama orang lain. Selain sensitif, mereka tak ingin bisnis mereka terganggu. Harus diakui, warga Desa Wonosari mendapat banyak berkah dari objek wisata Gunung Kawi. Tak sedikit penduduk mengais rezeki di kawasan Gunung Kawi mulai pemandu wisata, penjual bunga, warung, satpam, parkir, dan sebagainya.

Selain berdoa sendiri-sendiri, Yayasan Gunung Kawi menawarkan paket ritual tiga kali sehari: pukul 10.00, pukul 15.00, pukul 21.00. Ritual ini dipimpin dukun atau tukang doa setempat, namun harus pakai sesajen untuk selamatan. Siapa yang mau ikut harus mendaftar dulu di loket.

Tarif barang-barang selamatan ditulis jelas di loket yang bagus. Ada dua tipe selamatan agar keinginan anda (dapat rezeki, usaha lancar) tercapai. Bagi mereka yang percaya.


Pengunjung antre membeli keperluan ritual
Berapa tarif selamatan? Berikut beberapa item yang umum digunakan, dan harga mengikuti kurs tentunya


  • Minyak tanah Rp 60.000
  • Solar Rp 100.000
  • Minyak goreng Rp 250.000
  • Beras Rp 400.000
  • Kambing Rp 500.000
  • Sapi Rp 7.500.000
  • Ayam Rp 25.000
  • Wayang kulit Rp 750.000
  • Ruwatan Rp 4.000.000

(Masih ditambah beberapa elemen lain yang sudah tentu menguras dompet pengunjung. Toh, antrean sangat panjang dari saudara-saudari kita yang hendak memburu rezeki di Gunung Kawi)

Melihat nilai rupiah itu, benar-benar membuat kita geleng-geleng kepala. Berdoa kok mahal amat? Apa ada jaminan jadi kaya? Apa Tuhan perlu begitu banyak sayur, makanan, daging, wayang kulit, ruwatan...? Kalau kita miskin, tak punya uang, apa harus utang untuk membeli barang-barang itu?

"Itu terserah pengunjung, Mas. Mereka yang percaya ya, nggak akan keberatan," jelas Syaikoni sambil tersenyum.

Di luar kompleks makam, ada Kelenteng Kwan Im. Lilin-lilin merah, besar, terus bernyala. Puluhan warga Tionghoa secara bergantian berdoa di sana. Disana juga ada ciamsi, ajang meramal nasib ala Tionghoa.

Sekitar enam kilometer dari kompleks makam ada pertapaan Gunung Kawi. Jalannya bagus. Kompleks ini pun penuh dengan ornamen Tionghoa. Di ruang utama ada tiga dukun yang siap menerima kedatangan tamu, berdoa agar rezeki lancar. Tapi sebelum itu si dukun membeberkan tarif selamatan yang jutaan rupiah seperti tertera di daftar harga di atas.

2 komentar:

  1. Artikel yang luar biasa dalam hal mengupas tuntas suatu sejarah lokasi.

    BalasHapus
  2. Thank, Karena begitu indahnya berbagi informasi

    BalasHapus

SEMANGAT PAGI....SUKSES Untuk SEMUA
JIKA ANDA PIKIR BISA PASTI BISA..!
Maaf apabila dalam pengambilan GAMBAR dirasa VULGAR
(Gambaran ini Hanyalah FAKTA sesuai dengan ASLINYA)
dan TIDAK Mutlak untuk diperdebatkan......................!!!

KALAU MAU DONATUR ( SEDEKAH )

Sedekah (Bisa Menunda Kematian)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
KLCK aja ICON dibawah untuk Baca berita
Link-link My Country Dept.(Tinggal Klick GAMBARnya AJA)