PRIMBON RAMALAN JODOH

DAFTAR SAHABAT YG MASUK The truth seeker
Tidak harus menjadi yang pertama,yang penting itu menjadi orang yang melakukan sesuatu dengan sepenuh hati.
HTML Counter
Sejak : 17 Agustus 2011

ISI DI BLOG INI HANYA GAMBARAN-GAMBARAN HIDUP YANG HAKIKI
Dan Merupakan Album yang berisi catatan yang saya tulis dalam perjalanan waktu.
Catatan yang terinspirasi dari apa yang saya lihat, saya baca, saya dengar, dan saya rasakan
MAAF JIKA GAMBAR GAMBAR yang kami Ambil Dirasa FULGAR dan UNCENCORED
Disclaimer: Artikel, gambar ataupun video yang ada di blog ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain,
dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain tersebut. Jika kami salah dalam menentukan sumber yang pertama, mohon beritahu kami

e-mail primbondonit@gmail.com HOTLINE SMS 0271 9530328
GAMBAR-GAMBAR dibawah ini BUKAN HANYA IKLAN tapi merupakan LINK SUMBER


Bagi sebagian masyarakat yang mengklaim diri sebagai masyarakat peradaban modern, westernism bahkan sebagian yang mengesankan perilaku agamis yakni hanya bermain-main sebatas pada simbol-simbol agama saja tanpa mengerti hakekatnya, dan kesadarannya masih sangat terkotak oleh dogma agama-agama tertentu. Manakala mendengar istilah mistik, akan timbul konotasi negatif. Walau bermakna sama, namun perbedaan bahasa dan istilah yang digunakan, terkadang membuat orang dengan mudah terjerumus ke dalam pola pikir yang sempit dan hipokrit. Itulah piciknya manusia yang tanpa sadar masih dipelihara hingga akhir hayat. Selama puluhan tahun, kata-kata mistik mengalami intimidasi dari berbagai kalangan terutama kaum modernism, westernisme dan agamisme. Mistik dikonotasikan sebagai pemahaman yang sempit, irasional, dan primitive. Bahkan kaum mistisisme mendapat pencitraan secara negative dari kalangan kaum modern sebagai paham yang kuno, Pandangan itu salah besar. Tentu saja penilaian itu mengabaikan kaidah ilmiah. Penilaian bersifat tendensius lebih mengutamakan kepentingan kelompoknya sendiri, kepentingan rezim, dan kepentingan egoisme (keakuan). Penilaian juga rentan terkonaminasi oleh pola-pola pikir primordialisme dan fanatisme golongan, diikuti oleh pihak-pihak tertentu hanya berdasarkan sikap ikut-ikutan, dengan tanpa mau memahami arti dan makna istilah yang sesungguhnya. Apalagi dalam roda perputaran zaman sekarang, di mana orang salah akan berlagak selalu benar. Orang bodoh menuduh orang lain yang bodoh. Emas dianggap Loyang. Besi dikira emas. Yang asli dianggap palsu, yang palsu dibilang asli. Semua serba salah kaprah, dan hidup penuh dengan kepalsuan-kepalsuan. Untuk itulah Warisjati merangkum beragam artikel dari beberapa sumber tentang pengetahuan Budaya dan tradisi di Nusantara yang merupakan warisan para leluhur yang sarat akan makna dan berbagai artikel lainnya yang saling melengkapi. Dengan harapan membangun sikap arif dan bijaksana dan mengambil pelajaran serta pengetahuan dari budaya masa lalu sebagai warisan leluhur di Nusantara ini.

ORANG YANG DENGAN MUDAHNYA MENGATAKAN SESAT KEPADA SESEORANG
ADALAH ORANG YANG TIDAK atau BELUM PAHAM AKAN DIRINYA SENDIRI

Cari Disini Artikel Yang ANDA INGINKAN INSYA ALLAH ada di BLOG INI

Selasa, 15 November 2011

Kisah Demak dalam Babad Tanah Jawa


Kisah Demak dalam Babad Tanah Jawa

Babad adalah cerita rekaan (fiksi) yang didasarkan pada peristiwa sejarah, dimana penulisannya biasanya dalam bentuk macapat (tembang/puisi/syair). Salah satu babad yang sangat terkenal adalah Babad tanah jawa, dimana babad ini tidak pernah lepas dalam setiap kajian mengenai hal hal yang terjadi di tanah Jawa.

Meskipun syarat dengan peristiwa sejarah, sifatnya yang fiksi menempatkan babad sebagai referensi sejarah-imajinatif. Babad memiliki sifat religio-magis dan pekat dengan imajinasi. Sifat itu membuat ahli sejarah berada dalam ragu untuk memakai babad sebagai sumber sejarah yang sahih, dan penggunaannya dalam menggali sejarah menuai pro dan kontra. S. Margana dalam buku Pujangga Jawa dan Bayang-bayang Kolonial (2004) mengungkapkan babad merupakan problematik dalam historiografi modern. Para sejarawan kerap memahami babad sebagai tulisan atau sumber sejarah dalam tendensi subjektif. Para sejarawan yang menolak peran babad sebagai sumber sejarah memiliki argumen bahwa babad rentan dengan bias dalam menggambarkan fakta-fakta sejarah. Babad cenderung menjadi percampuran dari fakta dan mitologi. Para sejarawan yang akomodatif justru menerapkan metode dan metodologi tertentu untuk menjadikan babad sebagai sumber informasi mumpuni ketimbang sumber-sumber kolonial.

Terlepas dari pro-kontra tersebut, babad Tanah Jawi merupakan jejak besar dalam membaca (sejarah) Jawa, salah satu diantaranya adalah sejarah Kesultanan Demak Bintoro. Di salah satu bab dalam babad tanah jawa secara singkat diceritakan sejarah berdirinya Kesultanan demak, bagamana perjalannya, dan bagamaimana kerajaan islam pertama di jawa ini berakhir.

Berikut ini adalah terjemahan bebas dari salah satu bab dalam babad tanah jawa yang berisikan kisah kesultanan demak bintoro. Babad tanah jawa yang diambil di sini adalah Babad tanah jawa yang digubah oleh L. VAN RIJCKEVORSEL -Directeur Normaalschool Muntilan dibantu oleh R.D.S. HADIWIDJANA Guru Kweekschool Muntilan yang diterbitkan pada tahun 1925.

Kerajaan Demak dan Kerajaan Pajang +/- tahun 1500 - 1582

Dimulai di tanah jawa ada agama islam pada tahun antara 1400-1425.

Ditahhun 1292 di tanah Perlak di pulau Sumatra sudah ada orang islam; pada tahun 1300 ada orang islam tiggal di Samudra Pasai. Di penghujung abad ke 14 di Malaka juga sudah ada orang islam. Orang Islam tersebut berasal dari Gujarat. Dari malaka itu, agama Islam tersebar ke Tanah Jawa, Tanah China, Indhiya Buri dan Indhiya Ngarep. Yang menyebarkan islam di Jawa pertama kali adalah Pedagang Jawa dari Tuban dan Gresik, yang sering berdagang di Malaka, mereka belajar agama islam, sehingga islam terkadang agak dipaksa. Para pedagang jawa tadi pulang ke Jawa Timur, pedagang Indhu dan Persia juga ada yang ikut masuk ke sana dan ikut menyebarkan agama islam kepada Masyarakat. Yang terkenal adalah Maulana Malik Ibrahim (Berkebangsaan Persia), meninggal di Gresik pada tahun 1419. Hingga sekarang makamnya masih ada.

Setelah kekuasaan kerajaan Majapahit semakin lama semakin surut, para bupati di pesisir merasa makin besar kekuasaannya. Berani melakukan tindakan sekehendaknya. Para bupati tersebut sepertinya telah memeluk islam sejak memasuki abad 16 (tahun 1500 - 1525). Oleh sebab itu kerap terjadi peperangan dengan para raja agama indhu yang berada di jawa bagian tengah.

Menurut Cerita: Sang Prabu Kertawijaya Majapahit itu telah menikah dengan Putri dari Cempa (Tanah Indhiya Buri). Putri Tersebut adalah bibinya Raden Rahmat atau yang dikenal dengan Sunan Ampel (dekat Surabaya). Sunan Ampel punya anak laki-laki satu yang bernama Sunan Bonang, dan Satu anak perempuan bernama Nyai Gedhe Malaka. Nyai Ghede Malaka itu mertua Raden Patah atau Panembahan Jimbun, yaitu yang disebut Sultan Demak Pertama.

Sunan Ngampel dan Sunan Bonang itu termasuk para wali. Para wali itu yang terkenal : Sunan Giri (sebelah selatan Gresik), ada di sana yasa kedhaton dan Masjid; Ki Pandan Arang (di Semarang) dan Sunan Kali Jaga (di Demak). Pada tahun 1458 di Demak sudah ada Masjid bagus.

Di antara para bupati di pesisir, Pati Unus itu yang paling berkuat. Pati Unus juga disebut Pangeran Sabrang Lor. Dia putra Raden Patah atau Panembahan Jimbun. Tahun 1511 Pati Unus menguasai Jepara, pada tahun 1513 menyerang Malaka. Persiapan yang dilakukan dalam rangka penyerangan tersebut membutuhkan waktu tujuh tahun. Dan bisa mengumpulkan kapal hingga sembilan puluh dan 12 ribu prajurit, juga meriam yang sangat banyak. Akan tetapi perlawanan Portugis sangat sengit, hingga Pati Unus dipaksa mundur pulang tanpa hasil.

Pati Unus pada tahun 1518 juga mengalahkan Majapahit, tapi majapahit waktu itu memang tidak sebesar dulu. Kotanya tidak dirusak, hanya pusaka kerajaan dibawa ke Demak serta Pati Unus mengaku menanti Ratu Majapahit.

Pada tahun 1521 Pati Unus meninggal masih muda dan tidak meninggalkan anak. Yang menggantikannya adalah adik yang tinggal satu yaitu Raden Trenggana, karena adiknya yang satu: Pangeran Sekar Seda Lepen, telah dibunuh oleh anaknya Raden Trenggana yang dijuluki Pangeran Mukmin.

Semasa pemerintahan Sultan Trenggana (Tahun 1521 - 1550) Kerajaan Demak sangat berkuasa sekali, Menguasai tanah Jawa Barat, kota-kota di pesisir utara dan juga merebut jajahan majapahit, serta kerajaan Supit Urang (Tumapel) juga menjadi diperintah oleh Demak. Sementara Blambangan itu milik Bali.

Pelabuhan milik Demak banyak yang ramai,seperti Jepara, Tuban, Gresik, dan Jaratan. Gresik dan Jaratan yang paling ramai, orang yang tinggal di sana ada 23 ribu.

Pada tahun 1546 Sunan Gunung Jati dengan Sultan Trenggana ingin menyerang Pasuruhan. Kota Pasuruhan Lalu dikepung oleh bala tentara, akan tetapi belum sempat menyerang, pengepungan dibatalkan, karena Sultan Trengganan meninggal dicelakai oleh salah seorang saudara santana.

Anak Sultan Trenggana banyak, Anak-anaknya menikah dengan bangsawan - bangsawan besar. Ada yang menikah dengan bupati di Pajang yang bernama Adiwijaya, yaitu Mas Karebet, Ki Jaka Tingkir atau Panji Mas.

Anak Sultan Trenggana ada dua: Pangeran Mukmin atau Sunan Prawata, dan Pangeran Timur yang nantinya menjadi adipati di Madura. Sunan Prawata itu yang membunuh Pangeran Sekar Seda Lepen.

Anak Pangeran Sekar Seda Lepen yang bernama Arya Panangsang ingin balas dendam kematian bapaknya. Sejak usaha membunuh Pangeran Mukmin beserta istri, kemudian anak menantu Sultan Trenggana tidak berhasil, justru Arya Panangsang diperangi kalah dan mati.

Adiwijawa kemudian menguasai Tanah Jawa: membawa pusaka kerajaan ke Pajan dan kemudian diangkat Sultan oleh Sunan Giri. Ketika Adiwijaya menjadi raja di Pajang, Blambangan dan Panarukan dimiliki Raja Agama Syiwah di Blambangan, yang juga memerintah Bali dan Sumbawa (tahun 1575)

Jajahan-jajahan di pajang diperintah oleh pangeran (adipati) yaitu : Surabaya, Tuban, Pati, Demak, Pemalang (Tegal), Purbaya (Madiyun), Blitar (Kedhiri), Selarong (Banyumas), Krapyak (Kedhu bagian selatan barat, sebelah barat Bengawan Solo.

Ada di Tanah Pasundhan kerajaan Pajang hampir tidak punya kekuasaan, karena pada tahun +/- 1568 tanah Banten dimerdekakan oleh Hasanuddin mejadi tanah kesultanan.

sumber : http://situskabar.blogspot.com/


Banten Melepaskan Diri dari Kuasa Demak

Kerajaan Demak didirikan oleh Raden Fattah (Raden Patah) atau Pangeran Jinbun sekitar tahun 1500. Ia adalah putra Prabu Brawijaya Kertabhumi, raja Majapahit terakhir, dari seorang selir asal Cina. Pada tahun 1478 terjadilah penyerbuan terhadap Majapahit oleh Kediri. Prabu Brawijaya gugur dalam pertempuran itu, dibunuh oleh Senapati Udara, seorang patih Kediri.

Dengan demikian Prabu Giri Indra Wardhana, Raja Kediri, mengambil alih kekuasaan Majapahit. Tapi pada tahun 1498 Prabu Indra Wardhana dibunuh pula oleh Patih Udara dalam satu pemberontakan, yang kemudian, Patih Udara mengangkat dirinya menjadi Raja Majapahit dengan gelar Prabu Udara.

Perubahan politik di pusat pemerintahan Majapahit ini merupakan salah satu faktor yang mendorong semangat Raden Fattah untuk lebih giat lagi mengembangkan daerahnya, Bintaro, menjadi daerah kuat dengan santri-santrinya yang dididik keprajuritan.

Di samping itu, penyebaran agama Islam lebih ditingkatkan sehingga sebagian besar masyarakat pesisir utara Jawa memeluk agama Islam. Hal ini dapat dikaitkan dengan dorongan moril Sunan Giri kepada Raden Fattah bahwa dialah yang lebih berhak menjadi raja Majapahit dibandingkan dengan Prabu Udara.

Dengan kata lain, jika Raden Fattah menyerang Prabu Udara dalam rangka merebut pusat pemerintahan Majapahit, maka peristiwa tersebut ditafsirkan sebagai usaha untuk mengambil pusaka orang tuanya sendiri. Karenanya, beberapa raja di pesisir utara Jawa menganggap pemerintahan Prabu Udara atas Majapahit ini tidak sah.

Hubungan yang tidak harmonis antara daerah-daerah pesisir utara dangan pusat pemerintahan Majapahit, mengakibatkan ekonomi menjadi lemah. Karena sebagaimana telah dijelaskan, bahwa daerah-daerah pesisir utara Jawa adalah kota-kota pelabuhan dagang, yang merupakan sumber pemasukan devisa yang sangat potensial untuk kas negara, melalui perdagangan ekspor-impornya. Krisis ekonomi yang berkepanjangan ini pada gilirannya merusak kesatuan sosial kehidupan masyarakat dan secara tidak langsung ikut melemahkan kekuatan Majapahit.

Dalam keadaan kerajaan yang tidak menentu akibat penolakan rakyat secara the jure terhadap pemerintahannya, pengaruh Islam maju cukup pesat di pesisir utara Jawa, ditambah keadaan kehidupan sosial-ekonomi rakyat yang semakin memburuk — yang pada akhirnya menyebabkan kewibawaan pemerintah pusat menurun — maka Prabu Udara mengadakan hubungan persahabatan dengan Portugis di Malaka.

Dengan membawa hadiah-hadiah yang berharga, pada tahun 1512 berangkatlah utusan Majapahit menemui Alfonso d’Albuquerque di Malaka (Berg, 1952: 385). Mendengar tindakan Prabu Udara itu, Raden Fattah dibantu beberapa raja pesisir segera mengadakan penyerangan besar-besaran terhadap Majapahit pada tahun 1517. Melalui pertempuran hebat dan banyak memakan korban akhirnya Majapahit dapat dikalahkan.

Prabu Udara dan beberapa pengikut setianya melarikan diri ke Bali, Pasuruan dan Blambangan. Semua barang kebesaran Majapahit dipindahkan ke Bintaro, yang selanjutnya menjadi ibu kota Kerajaan Demak. Maka pada masa Raden Fattah, di Pulau Jawa hanya ada dua kerajaan Hindu, yakni Kerajaan Pajajaran di Jawa Barat dan Kerajaan Blambangan di Pasuruan.

Raden Fattah mempunyai tiga orang putra: Pangeran Muhammad Yunus, Pangeran Sekar Seda Lepen dan Pangeran Trenggono. Sebagai putra raja, mereka dilatih dalam urusan pemerintahan untuk dipersiapkan menjadi pemimpin negara sepeninggal orang tuanya. Dalam hal ini, Muhammad Yunus, sebagai putra tertua, diangkat menjadi Patih Demak, yang bertugas sebagai pendamping raja dalam segala urusan kenegaraan; sehingga ia disebut Patih Yunus atau Patih Unus.

Patih Yunus yakin bahwa Portugis adalah musuh besar umat Islam. Mereka selalu berusaha menghancurkan negara-negara Islam. Ini mereka buktikan sendiri dengan menjajah Kesultanan Malaka dan di Malaka pedagang-pedagang yang beragama Islam selalu dipersulit dengan berbagai peraturan dan pajak yang tinggi.

Orang Portugis bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan Hindu untuk menghancurkan Kerajaan Islam di Nusantara. Kerajaan Hindu lebih senang bersahabat dengan bangsa asing, Portugis, dibanding bersahabat dengan kerajaan Islam di Jawa. Persahabatan Majapahit dengan Portugis lebih meyakinkan Patih Yunus untuk menyerang dan menghancurkan Portugis di Malaka.

Maka pada tahun 1512, setelah mendapatkan izin ayahnya, bersama dengan 90 buah kapal jung yang berkekuatan 12.000 prajurit dilengkapi dengan meriam-meriam buatan sendiri, berangkatlah armada Demak ke Malaka. Perang besar terjadi di Selat Malaka pada tahun 1513, tapi karena pertahanan armada Portugis lebih kuat dan lebih berpengalaman dalam pertempuran laut, maka pasukan Demak pulang dengan membawa kekalahan.

Patih Yunus sendiri pulang dengan sebuah jung ke Jepara, bandar kerajaan Demak. Setelah penyerangan Malaka itu, Patih Yunus bergelar Pangeran Sabrang Lor (Berg, 1952: 385).

Raden Fattah meninggal pada tahun 1518, kemudian tahta Demak digantikan oleh Pangeran Muhammad Yunus. Muhammad Yunus meninggal dunia pada tahun 1521 dengan tidak meninggalkan putra, oleh karena itu adiknyalah yang berhak menggantikan sebagai raja Demak. Kedua adik Muhammad Yunus, yakni Pangeran Sekar Seda Lepen dan Pangeran Trenggono sama-sama ingin menjadi raja, maka terjadilah perebutan pengaruh di antara keduanya.

Apabila hal demikian didiamkan, dikhawatirkan akan terjadi perang saudara yang akan menimbulkan perpecahan dan menelan banyak korban. Pikiran semacam inilah yang mendorong Pangeran Mu’min atau dikenal dengan nama Sunan Prawoto, anak sulung Pangeran Trenggono, membunuh Pangeran Sekar Seda Lepen. Dengan demikian maka Pangeran Trenggono diangkat menjadi Raja Demak pada tahun 1521 sampai tahun 1546 (Hamka, 1976: 158-160).

Pada kurun pemerintahan Trenggono, perluasan pengaruh Islam mengalami kemajuan yang pesat di Jawa. Tahun 1527, dikuasainya wilayah Jawa Barat. Kemudian pada tahun 1546 diadakan penyerangan ke Pasuruan, Panarukan, dan Supit Urang, sebagai daerah-daerah penting Kerajaan Blambangan.

Dalam usaha memperluas pengaruh Islam di Jawa Timur ini, Banten mengirimkan 7.000 prajurit pilihan yang langsung dipimpin oleh Fatahillah untuk membantu pasukan Demak. Walaupun ketiga daerah tersebut dapat dikuasainya, tapi Trenggono sendiri gugur dalam satu pertempuran.

Tahta Demak kemudian dipegang oleh Sunan Prawoto, anak tertua Trenggono. Tapi baru satu tahun ia memerintah Demak, Sunan Prawoto dibunuh oleh misannya Arya Penansang, putra Pangeran Sekar Seda Lepen, sebagai tindakan balas dendam. Anak Sunan Prawoto, yaitu Pangeran Pangiri, juga akan dibunuhnya pula, namun tidak berhasil, karena Pangeran Pangiri lebih dahulu meloloskan diri dan berlindung kepada Pangeran Hadiri, Adipati Kalinyamat. Akhirnya, Pangeran Hadiri pun dibunuh oleh suruhan Arya Penansang (Berg, 1952: 390).

Krisis kepemimpinan di pusat kerajaan Demak ini berlangsung cukup lama, yaitu sekitar 21 tahun (1547 – 1568). Kefakuman kepemimpinan Demak ini baru berakhir setelah Jaka Tingkir, menantu Trenggono, dapat membunuh Arya Penansang dalam suatu pertempuran sengit. Jaka Tingkir dinobatkan menjadi penguasa di Demak dengan gelar Sultan Adiwijoyo dan pusat pemerintahan dipindahkan ke Pajang; sedangkan Demak dijadikan kadipaten dengan Arya Pangiri sebagai bupatinya. Sultan Adiwijoyo memerintah selama 16 tahun (1568 – 1586), yang kemudian tewas dalam pertempuran melawan pasukan Mataram yang dipimpin oleh Sutowijoyo.

Kemelut berkepanjangan yang melanda pemerintahan ini menyebabkan kerajaan Demak menjadi lemah dalam segala bidang kehidupan. Keadaan ini mengakibatkan Demak kehilangan kewibawaannya di mata dunia internasional, sedang dalam waktu yang bersamaan, Banten, mengalami kemajuan dalam segala segi. Situasi demikianlah yang mendorong Hasanuddin mengambil keputusan untuk melepaskan Banten dari pengawasan Demak.

Banten menjadi kerajaan yang berdiri sendiri, dengan Maulana Hasanuddin sebagai raja pertamanya. Sedang wilayah kekuasaannya pada waktu itu meliputi Banten, Jayakarta sampai Kerawang, Lampung, Indrapura sampai Solebar (Djajadiningrat, 1983: 38).

Tindakan Hasanuddin melepaskan diri dari pengawasan Demak ini dianggap sangat penting, karena di samping untuk kemajuan pengembangan daerah Banten, juga, berarti Hasanuddin tidak mau ikut terlibat dalam keributan di pemerintahan Demak, yang masih terhitung famili dekat.

Dengan ketidakterikatannya dengan Demak, maka dalam masa pemerintahan Maulana Hasanuddin selama 18 tahun (1552 – 1570), banyak kemajuan yang diperoleh Banten dalam segala bidang kehidupan (Djajadiningrat, 1983:181).

Dalam kehidupan pribadi Maulana Hasanuddin, dari pernikahannya pada tahun 1526 dengan putri Raja Demak, Trenggono, yang bernama Pangeran Ratu (Ratu Ayu Kirana), dikarunia anak : Ratu Pembayun, Pangeran Yusuf, Pangeran Arya, Pangeran Sunyararas, Pangeran Pajajaran, Pangeran Pringgalaya, Ratu Agung atau Ratu Kumadaragi, Pangeran Molana Magrib dan Ratu Ayu Arsanengah. Sedang anak dari istri yang lainnya: Pangeran Wahas, Pangeran Lor, Ratu Rara, Ratu Keben, Ratu Terpenter, Ratu Wetan dan Ratu Biru. Ratu Pembayun kemudian menikah dengan Ratu Bagus Angke putra Ki Mas Wisesa Adimarta yang selanjutnya mereka tinggal di Angke daerah Jayakarta (Djajadiningrat, 1983:128).

Maulana Hasanuddin wafat pada tahun 1570 dan dikuburkan di samping Masjid Agung. Setelah kematiannya Maulana Hasanuddin dikenal dengan sebutan Sedakinking kemudian sebagai gantinya dinobatkanlah Pangeran Yusuf menjadi Raja Banten ke-2.

Sumber : http://humaspdg.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SEMANGAT PAGI....SUKSES Untuk SEMUA
JIKA ANDA PIKIR BISA PASTI BISA..!
Maaf apabila dalam pengambilan GAMBAR dirasa VULGAR
(Gambaran ini Hanyalah FAKTA sesuai dengan ASLINYA)
dan TIDAK Mutlak untuk diperdebatkan......................!!!

KALAU MAU DONATUR ( SEDEKAH )

Sedekah (Bisa Menunda Kematian)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
KLIK GAMBAR UNTUK MEMBESARKAN dan MASUK LINKnya

KOLEKSI HASIL SKRIPSI for MAHASISWA 100%FREE
  • KLCK aja ICON dibawah untuk Baca berita