PRIMBON RAMALAN JODOH



DAFTAR SAHABAT YG MASUK The truth seeker
Tidak harus menjadi yang pertama,yang penting itu menjadi orang yang melakukan sesuatu dengan sepenuh hati.
HTML Counter

Sejak : 17 Agustus 2011

ISI DI BLOG INI HANYA GAMBARAN-GAMBARAN HIDUP YANG HAKIKI
Dan Merupakan Album yang berisi catatan yang saya tulis dalam perjalanan waktu.
Catatan yang terinspirasi dari apa yang saya lihat, saya baca, saya dengar, dan saya rasakan
MAAF JIKA GAMBAR GAMBAR yang kami Ambil Dirasa FULGAR dan UNCENCORED
Disclaimer: Artikel, gambar ataupun video yang ada di blog ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain,
dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain tersebut. Jika kami salah dalam menentukan sumber yang pertama, mohon beritahu kami

e-mail primbondonit@gmail.com HOTLINE SMS 0271 9530328
GAMBAR-GAMBAR dibawah ini BUKAN HANYA IKLAN tapi merupakan LINK SUMBER


Bagi sebagian masyarakat yang mengklaim diri sebagai masyarakat peradaban modern, westernism bahkan sebagian yang mengesankan perilaku agamis yakni hanya bermain-main sebatas pada simbol-simbol agama saja tanpa mengerti hakekatnya, dan kesadarannya masih sangat terkotak oleh dogma agama-agama tertentu. Manakala mendengar istilah mistik, akan timbul konotasi negatif. Walau bermakna sama, namun perbedaan bahasa dan istilah yang digunakan, terkadang membuat orang dengan mudah terjerumus ke dalam pola pikir yang sempit dan hipokrit. Itulah piciknya manusia yang tanpa sadar masih dipelihara hingga akhir hayat. Selama puluhan tahun, kata-kata mistik mengalami intimidasi dari berbagai kalangan terutama kaum modernism, westernisme dan agamisme. Mistik dikonotasikan sebagai pemahaman yang sempit, irasional, dan primitive. Bahkan kaum mistisisme mendapat pencitraan secara negative dari kalangan kaum modern sebagai paham yang kuno, Pandangan itu salah besar. Tentu saja penilaian itu mengabaikan kaidah ilmiah. Penilaian bersifat tendensius lebih mengutamakan kepentingan kelompoknya sendiri, kepentingan rezim, dan kepentingan egoisme (keakuan). Penilaian juga rentan terkonaminasi oleh pola-pola pikir primordialisme dan fanatisme golongan, diikuti oleh pihak-pihak tertentu hanya berdasarkan sikap ikut-ikutan, dengan tanpa mau memahami arti dan makna istilah yang sesungguhnya. Apalagi dalam roda perputaran zaman sekarang, di mana orang salah akan berlagak selalu benar. Orang bodoh menuduh orang lain yang bodoh. Emas dianggap Loyang. Besi dikira emas. Yang asli dianggap palsu, yang palsu dibilang asli. Semua serba salah kaprah, dan hidup penuh dengan kepalsuan-kepalsuan. Untuk itulah Warisjati merangkum beragam artikel dari beberapa sumber tentang pengetahuan Budaya dan tradisi di Nusantara yang merupakan warisan para leluhur yang sarat akan makna dan berbagai artikel lainnya yang saling melengkapi. Dengan harapan membangun sikap arif dan bijaksana dan mengambil pelajaran serta pengetahuan dari budaya masa lalu sebagai warisan leluhur di Nusantara ini.

ORANG YANG DENGAN MUDAHNYA MENGATAKAN SESAT KEPADA SESEORANG
ADALAH ORANG YANG TIDAK atau BELUM PAHAM AKAN DIRINYA SENDIRI

Cari Disini Artikel Yang ANDA INGINKAN INSYA ALLAH ada di BLOG INI

Senin, 05 November 2012

BIJI SAWI (Brassica nigra ) DALAM AL QUR’AN

BIJI SAWI (Brassica nigra ) 
DALAM AL QUR’AN
Biji Sawi (Brassica nigra)
MAKALAH

BIJI SAWI (Brassica nigra ) DALAM AL QUR’AN

 Disusun untuk Memenuhi Tugas Akhir
Mata Kuliah Taksonomi Tumbuhan Tinggi

Dosen Pembimbing :

Drs. Sulisetijono
Ainun Nikmati Laili, M.Si

Disusun oleh :

Evi Susanti                    (10620095)  

JURUSAN BIOLOGI

 FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
 2012 

KATA PENGANTAR

Segala puji hanyalah milik Allah semata, Tuhan seru sekalian alam yang tidak ada sekutu baginya , yang telah menganugerahi akal untuk berfikir kepada para hamba-Nya, sehingga mereka dapat mencapai kebahagiaan yang hakkiki di akhi hidupnya kelak. Shalawat serta salam semoga tercurahkan selalu kepada pahlawan kita yang membawa umatnya kepada jaln yang benar, yakni Nabi Muhammad SAW.

Alhamdulillah atas segala kekuatan yang Allah anugerahkan kepada kami, akhirnya makalah yang sederhana ini yang membahas tentang ”Biji Sawi di dalam Al Qur’an ” dapat terselesaikan tanpa ada hambatan yang berarti. Makalh ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas pada mata kuliah Taksonomi Tumbuhan Tinggi dengan dosen pengampu Dr. Sulisetjono, M.Si dan Ainun Nikmati Laily, M.Si.


Selanjutnya kami mengucapkan terima kasih banyak kepada Bapak dan Ibu dosen yang bersangkutan, karena atas dorongan dan motivasinya makalah ini dapat terselesaikan, dan tak lupa kepada para rekan seperjuangan kami yang telah memberikan sumbangan pemikiran dalam penyelesaian makalah ini.


Akhir kata, penyusun menyadari dengan betul akan segala kekhilafan dan kekurangan dalam penyusunan makalah ini, untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan sarannya yang bersifat membangun, demi terciptanya makalah yang lebih baik lagi di masa yang akan datang. Semoga makalah ini senantiasa bermanfaat selalu dalam kehidupan kita sehari-hari, Amin. 


Malang, 7 Juni 2012

Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia dan mengistimewakannya dari segenap makhluk-Nya yang lain dengan nikmat akal yang dengannya dia dapat mengatur, meneliti, dan berpikirtentang alam semesta yang ada disekelilingnya yang tak pernah mengenal akhir dan tak pernah diketahui permulaannya. Manusia dapat berpikir tentang benda yang ada disekitarnya yang diciptakan oleh Sang Pencipta Pertama, berupaya  memanfaatkannya lalu mendapatkan makanan, obat-obatan, pakaian, minuman, tempat tinggal dan tempat berteduh.
Manusia mampu mengkaji hakikat dan dalil-dalilnya yang menunjukkan adanya Sang Pencipta Alam Semesta., Sang Pemberi kehidupan dan berbagai kenikmatan ini, kekuasaan-Nya dan Ilmu-Nya.
Artinya : ” Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, Maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun, dan jika ( amalan itu ) hanya seberat biji  sawipun pasti Kami mendatangkan ( pahala )nya, dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan ”.
            Sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an Tanaman sawi hitam ( Brassica nigra ) termasuk family Crucifera. Ia adalah tumbuhan menjalar yang tingginya bisa mencapai satu meter atau lebih. Buahnya adalah sawi halus. Pohon tersebut berdiri tegak diatas batangnya yang mengandung sekitar 10-12 butir halus yang hitamnya legam warnanya, selain itu sawi ternyata memiliki banyak manfaat bagi makhluk lain terutama manusia. Dalam makalah ini akan dibahas tentang tanaman sawi dan pendapat para ahli tafsir dan kajian ilmu pengetahuan tentang biji serta hubungannya dengan penyebutan tanaman tersebut di dalam ayat Al Qur’an.

1.2 Tujuan
Tujuan yang terdapat dalam makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui pendapat para ulama tentang kata Khardal yang ada dalam ayat Al Qur’an
  1. untuk mengetahui Sawi Hitam ( Brassica nigra ) dalam kajian ilmu pengetahuan
3. untuk mengetahui hubungan antara penyebutan kata Khardal dengan peran biji sawi

1.3 Manfaat
Manfaat yang terdapat dalam makalah ini adalaj :
1. Mempermudah pemahaman tentang makna tersirat kata yang dimaksud dalam Al Qur’an
2. Menambah wawasan tentang kegunaan tanaman yang ada disekitar lingkungan
3. Memperkuat dan mendukung informasi yang ada dalam masyarakat tentang sawi



BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Tanaman Sawi
                                             
     ( Cak Mus, 2011 )

  • Sistematika Taksonomi :
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Subkelas : Dillenidae
Ordo : Capparales
Famili : Brassicaceae ( Plantamor, 2011 )

  • Deskripsi
Suku kubis-kubisan atau Brassicaceae ( atau Cruciferae ) ialah salah satu suku anggota tumbuhan berbunga. Dalam keluarga ini terdapat sejumlah jenis sayuran yang banyak berguna bagi kehidupan manusia. Cruciferae adalah nama yang lebih dahulu digunakan yang artinya ” pembawa silangan ”, yang mencerminkan ciri khas suku ini karena memiliki empat kelopak bunga tersusun menyerupai tanda silang atau salib.
Brassicaceae ditemukan di hampir semua zona iklim sedang hingga daerah tropika dan yang paling banyak ditemukan di kawasan Laut Tengah. Secara keseluruhan, terdapat 350 marga ( genus ) dan sekitar 3000 spesies. Keseluruhan marga dicantumkan pada artikel ” Daftar marga anggota Brassicaceae ”;
Sawi adalah sekelompok tumbuhan dari marga Brassica yang dimanfaatkan daun atau bunganya sebagai bahan pangan ( sayuran ), baik segar maupun diolah. Sawi mencakup beberapa spesies Brassica yang kadang-kadang mirip satu sama lain. Di Indonesia penyebutan sawi biasanya mengacu pada sawi hijau ( Brassica rapa kelompokparachinensis, yang disebut juga sawi bakso , caisim, atau caisin ). Selain itu, terdapat pula sawi putih ( Brassica rapakelompok pekinensis, disebut juga petsai  ). Kailan ( Brassica oleracea kelompok alboglabra ) adalah sejenis sayuran daun lain yang agak berbeda, karena daunnya lebih tebal dan lebih cocok menjadi bahan campuran mie goreng. Sawi sendok ( pakcoy atau bok choy ) merupakan jenis sayuran daun kerabat sawi yang mulai dikenal pula dalam dunia boga Indonesia.
  • Manfaat
Sawi sangat baik untuk menghilangkan rasa gatal di tenggorokan pada penderita batuk. Penyembuh penyakit kepala, bahan pembersih darah, memperbaiki fungsi ginjal, serta memperbaiki dan memperlancar pencernaan. Sedangkan kandungan yang terdapat pada sawi adalah protein, lemak, karbohidrat, Ca, P, Fe, Vitamin A, Vitamin B, dan Vitamin C. Biji sawi hitam digunakan sebagai perisa acar, daging, ikan, jeruk, salad, snek dan sos sejak zaman purba lagi.
  • Biji : Digunakan untuk meransang muntah dan peluh, sebagai diuretik, stimulan, mengeluarkan kahak dan meradangkan kulit. Hanya dihancurkan, ditelan bagi merawat masalah perut, selsema; ditampal pada radang sendi, bisul bernanah , lumbago, penyakit kulit dan reutisme. Infusi diminum untuk memanaskan perut dan membuka selera, merawat bronkitis, sakit kepala, reumatisme, sakit kerongkong dan selsema. Dekokasi diminum untuk merawat busung, masalah hati dan limpa, pleurisi dan sakit kepala.
  • Daun : Ditumbuk lumat dan ditempel pada penyakit kulit. Dekokasi diminum untuk merawat spasma. Daun dimasak sup dan diminum untuk merawat radang pundi kencing atau dimasak bubur untuk dimakan bagi merawat pendarahan dalaman.
  • Minyak : Digunakan pada bisul bernanah, gatal, ulser dan meransang pertumbuhan rambut. Minyak sawi digunakan untuk membuat gas pemedih mata, pencegah anjing serta kucing dan membuat sabun. Lebah yang mengumpul nektar bunga sawi menghasilkan madu berwarna cerah dan rasa yang sederhana.
  •  Secara umum tanaman sawi biasanya mempunyai daun panjang, halus, tidak berbulu, dan tidak berkrop. Petani kita hanya mengenal 3 macam sawi yang biasa dibudidayakan yaitu : sawi putih ( sawi jabung ), sawi hijau, dan sawi hitam.
2.2.1 Sawi Hitam ( Brassica nigra )
                              
             ( Cak Mus, 2011 )

  • Sistematika Taksonomi
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Sub Kelas : Dilleniidae
Ordo : Capparales
Famili : Brassicaceae
Genus : Brassica
Spesies : Brassica nigra ( L ) ( Plantamor, 2011 )
  • Deskripsi
Sesawi hitam, black mustard, atau Brassica nigra ( L ) WDJ. Koch merupakan tanaman semusim yang ditanam untuk dimanfaatkan bijinya sebagai rempah-rempah. Biji sesawi hitam diolah menjadi mustar. Mustar hitam yang dihasilkannya merupakan mustar dengan ” daya sengat ” yang paling kuat, namun nyaris tanpa aroma dibandingkan dengan sumber mustar lainnya. Sebagaimana sesawi lain, efek ” sengatan ” ini berasal dari kandungan beberapa bahan golongan gluksinolat seperti seperti sinalbin, sinirgin, dan sinapin.
Tumbuhan ini diperkirakan berasal dari daerah Laut Tengah Timur laut dan sekarang tersebar hingga India. Di India bijinya digunakan sebagai salah satu komponen bumbu kari dan sumber minyak masak, walaupun semakin tedesak oleh sesawi India. Kandungan minyaknya mencapai 30 % dan sebagian besar mengandung asam lemak tak jenuh. Di Eropa Timur dan Kanada biji yang telah dilepas cangkangnya digunakan sebagai penekan batuk dan mengatasi infeksi saluran pernafasan bagian atas ( ISPA ) sebelum digunakannya obat-obatan modern. Caranya adalah dengan membuat semacam balur yang diletakkan di dada atau punggung hingga si sakit merasakan ” sengatan ”.
Semenjak tahun 1950-an sesawi hitam mulai kehilangan popularitas dan digantikan oleh sesawi coklat ( sesawi India ) karena tersedia kultivar sesawi coklat yang lebih mudah dipanen secara mekanis. Tumbuhan ini dapat tumbuh setinggi 50 hingga 250 cm dengan mahkota bunga berwarna kuning. Daunnya ditutupi dengan rambut-rambut kecil. Di alam, sesawi hitam bersifat oportunis dan dapat tumbuh di sembarang tempat sehingga sering menjadi gulma. Bijinya kecil, dengan diameter kurang dari 11 mm.
  • Manfaat
  • Biji : Digunakan untuk meransang muntah dan peluh; sebagai diuretik, stimulan, mengeluarkan kahak dan meradangkan kulit. Lanya dihancurkan, ditelan bagi merawat masalah perut, selsema; ditampal pada radang sendi, bisul bernanah, lumbago, penyakit kulit dan reumatisme. Infusi diminum untuk memanaskan perut dan membuka selera, merawat bronkhitis, sakit kepala, reumatisme, sakit kerongkong dan selsema. Dekoksi diminum untuk merawat busung, masalah hati dan limpa, pleurisi dan sakit kepala
  • Daun : Ditumbuk lumat dan tampal pada penyakit kulit. Dekoksi diminum untuk merawat spasma. Daun dimasak sup dan diminum untuk merawat radang pundi kencing atau dimasak bubu untuk dimakan bagi merawat pendarahan dalaman.
  • Minyak : Digunakan pada bisul bernanah, gatal, ulser dan meransang pertumbuhan   rambut. Minyak sawi digunakan untuk membuat gas pemedih mata, pencegah anjing serta kucing dan membuat sabun. Lebah yang mengumpul nektar bunga sawi menghasilkan madu berwarna cerah dan rasa yang sederhana
2.1.2 Sawi Hijau ( Brassica rappa )
                                     
   ( Cak Mus, 2011 )

  • Sistematika Taksonomi
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
SubKelas : Dilleniidae
Ordo : Capparales
Famili : Brassicaceae
Genus : Brassica
Spesies : Brassica rappa ( L ) ( Plantamor, 2011)
  • Deskripsi
Herba semusim yang mudah tumbuh. Perkecambahannya epigeal. Sewaktu muda tumbuh lemah, tetapi setelah daun ketiga dan seterusnya akan membentuk setengah roset dengan batang yang cukup tebal, namun tidak berkayu. Daun elips, dengan bagian ujung biasanya tumpul. Warnanya hijau segar, biasanya tidak berbulu.
Menjelang berbunga sifat rosetnya agak menghilang, menampakkan batangnya. Bunganya kecil, tersusun majemuk berkarang. Mahkota bunganya berwarna kuning, berjumlah 4 ( Brassicaceae ). Benang sarinya 6, mengelilingi satu putik. Buahnya menyerupai polong tetapi memiliki dua daun buah dan disebut siliqua.
Brassica rappa L ( sinonim B. Campestris ) adalah salah satu spesies dari suku sawi-sawian ( Brassicaceae, dulu dikenal sebagai Cruciferae ). Spesies ini amat beragam penampilannya, sehingga diperlukan pengelompokan di bawah spesies ( infraspesifik ) untuk memperjelas posisi setiap macamnya. Di dalamnya terdapat kelompok sayuran daun ( misalnya sawi dan ” rubsen ”), sayuran umbi ( dipanen umbi akarnya seperti turnip), pakan ternak, serta penghasil minyak ( dari bijinya ).
Sawi hijau ( Brassica rappa convar. Parachinensis; suku sawi-sawian atau Brassicaceae ) merupakan jenis sayuran yang cukup populer. Dikenal pula sebagai caisim, caisin, atau sawi bakso, sayuran ini mudah dibudidayakan dan dapat dimakan segar ( biasanya dilayukan dengan air panas ) atau diolah menjadi asinan ( kurang umum ).
Jenis sayuran ini mudah tumbuh di dataran rendah maupun dataran tinggi. Bila ditanam pada suhu sejuk tumbuhan ini akan cepat berbunga. Karena biasanya dipanen seluruh bagian tubuhnya ( kecuali akarnya ), sifat ini kurang disukai. Pemuliaan sawi ditujukan salah satunya untuk mengurangi kepekaan akan suhu ini.
  • Manfaat
Karena mudah tumbuh responsif terhadap perubahan lingkungan, sawi hijau sering dimanfaatkan sebagai tumbuhan percobaan untuk pemupukan, kesuburan tanaman, gangguan karena kurangan hara, serta bioremediasi.

2.1.3 Sawi Putih ( Brassica alba )
                                    
( Cak Mus, 2011 )

  • Sistematika Taksonomi
Kingdom : Plantae
Sub kingdom : Tracheobionta
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Sub Kelas : Dilleniidae
Ordo : Capparales
Famili : Brassicaceae
Genus : Brassica
Spesies : Brassica alba ( L ) ( Plantamor, 2011 )
  • Deskripsi
Sawi putih ( Brassica alba convar. Pikinensis ; suku sawi-sawian atau Brassicaceae ) dikenal sebagai sayuran olahan dalam masakan Tionghoa; karena itu disebut juga sawi cina. Ia dikenal pula sebagai petsai. Disebut sawi putih karena daunnya cenderung kuning dan pucat dan tangkai daunnya putih. Sawi putih dapat dilihat penggunaannya pada asinan ( diawetkan dalam cairan gula dan garam ), dalam capcay, atau pada sup bening. Sawi putih beraroma khas namun netral.
Tanaman herba ; 30-60 cm tinggi ( kadangkala 120 cm tingginya ). Batangnya berjalur dan berbulu. Daunnya mempunyai bentuk dan saiz berbeda, berselang seling, daun yang paling besar biasanya terdapat di tengah pokok. Manakala bunganya kecil, jambak bunga pada ujung ranting dan juga pada ketiak daun. Petal bunga berwarna kuning ; 4 petal pada satu bunga. Buah jenis silik; 2-4,5 cm panjang, bagian antara biji terkerut.
Habitus tumbuhan ini mudah dikenali memanjang, seperti silinder dengan pangkal membulat seperti peluru. Warnanya putih. Daunnya tumbuh membentuk roset yang sangat rapat satu sama lain. Sawi putih hanya tumbuh baik pada tempat-tempat sejuk, sehingga di Indonesia ditanam di dataran tinggi. Tanaman ini dipanen selagi masih pada tahap vegetatif ( belum berbunga ). Bagian yang dipanen adalah keseluruhan bagian tubuh yang berada di permukaan tanah. Produksinya tidak terlalu tinggi di Indonesia. Sayuran ini populer di Tiongkok, Jepang, dan Korea. Di Korea varietas lain sawi putih dipakai sebagai bahan baku kimchi, makanan khas Korea.
Mustar putih atau sesawi putih ( Sinapsis alba L. Syn. Brassica alba. Syn. S. Hirta syn. B. Hirta ) merupakan tumbuhan sesawi yang bijinya diolah menjadi mustar, rempah-rempah penyedap dalam masakan Eropa. Tumbuhan ini berasal dari daerah Laut Tengah bagian timur dan sudah sejak masa Romawi dikembangkan oleh manusia. Daunnya digunakan pula sebagai pakan ternak dan biasa ditanam oleh petani Eropa sebagai pupuk hijau untuk menjaga kondisi tanah.
Rasa pedas dan menyengat disebabkan oleh kandungan sinapin dan sinalbin pada bijinya. Bijinya bulat, berwarna kuning pucat, dengan diameter sekitar 1 mm. Biji dipanen lalu dihaluskan menjadi bubuk mustar putih yang relatif lembut dibandingkan dengan mustar coklat atau mustar hitam. Biji ini mengandung sinalbin ( 3 % ), protein, dan lemak ( sampai 30 % ). Rasa pedas dan menyengat dari mustar putih disebabkan oleh sinalbin. Mustar putih memberikan rasa pedas yang lembut dan banyak disukai orang daripada biji mustar hitam.
Selain sebagai sumber rempah, biji sesawi putih juga dapat dipakai sebagai sumber minyak dengan asam lemak rantai panjang ( asam erukat ), seperti minyak rapa.
  • Kandungan :
Biji : 5 % air, 26 % protin, 36 % minyak, 23 % karbohidrat, 5 % fiber, asid arakidik, asid erucik, asid ligoserik, asid linoleik, beta karotena, fostase, glukosinolat, glikosida, isotiosianat, laktas, linamaras, mirosinas, riboflavin, sinalbin dan stiamin.
  • Manfaat :
Biji : Sebagai obat untuk mengeluarkan angin dari perut dan usus, kahak, merangsang peluh, digunakan sebagai diuretik, emetik, peradang dan stimulan. Infusi diminum untuk merawat bronkithis, batuk, reumatisme, sakit kerongkongan dan bengkak anak tekak. Minyak dari bijinya digunakan sebagai obat luaran dan dalaman untuk merawat tumor. Juga digunakan sebagai obat luaran untuk merawat neuralgia.

2.2        Tanaman Sawi Menurut Perspektif Islam
Nama lain : Khardal ( Arab ), Mustard ( Inggris ), Mautarde ( Prancis ), Sinapsis ( Latin ),
Nama Saintis : Brassica nigra ( Famili : Brassicaeae )
Penyebaran : dibudidayakan secara luas di daerah tropis dan subtropics
Hadist tentang Biji Sawi :
  1. Nabi Muhammad SAW bersabda, “ Setiap orang yang memiliki iman, walaupun sebesar biji sawi, tidak akan masuk neraka dan setiap orang yang memiliki kesombongan, walaupun sebesar biji sawai, tidak akan diizinkan masuk surga.” ( H.R Muslim ).
  2. Rasulullah SAW bersabda, “ Tuhan akan meminta ( Nabi Muhammad SAW ) untuk pergi dan membawa keluar dari neraka siapa saja yang mempunyai keimanan walaupun sebesar biji sawi.” ( H.R Muslim )

2.2.1    Sawi Hitam ( Brassica nigra )
Dari semua jenis sawi, biji sawi hitam adalah komoditi perdagangan yang paling umum dan penting. Dalam literature-literatur Arab Kuno, tentu juga dalam bahasa Semit lainnya, biji sawi disebut ketika menggambarkan objek terkecil atau kejadian kecil. Dalam Al Qur’an, biji sawi ( khardal ) juga disebut untuk menggambarkan amal terkecil, yaitu dalam Al Qur’an Surat Al Anbiya’ ( 21 ) ayat 47 dan Surat Luqman ( 31 ) ayat 16.
Sawi telah disebut didalam Al Qur’anul Karim unutuk menunjukkan kecilnya butirannya. Allah SWT berfirman dalam surat Luqman ayat 16, yang berbunyi :

Artinya :
“ (Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus[1181] lagi Maha Mengetahui. ( Q.S Luqman ( 31 ) : 16 ).
[1181]. Yang dimaksud dengan Allah Maha Halus ialah ilmu Allah itu meliputi segala sesuatu bagaimana kecilnya.

Disini terdapat dua jenis sawi, yaitu sawi hitam dan sawi putih.

Artinya : “Kami menetapkan timbangan untuk menentukan keadilan pada hari kiamat. Maka, pada hari itu, tidak akan ada seorang pun yang dicurangi dengan pengurangan kebaikannya atau penambahan kejelekannya. Meskipun perbuatannya hanya seberat biji moster, akan Kami datangkan dan akan Kami perhitungkan. Cukuplah Kami sebagai penghitung, maka tak seorang pun akan dirugikan(1). ( Q.S Al Anbiya; ( 21 ): 47 ).
(1)  Ayat ini mengisyaratkan betapa ringannya biji moster (khardzal) itu. Melalui penelitian dapat diketahui bahwa satu kilogram biji moster terdiri atas 913.000 butir. Dengan demikian, berat satu butir biji moster hanya sekitar satu per seribu gram, atau ± 1 mg., dan merupakan biji-bijian teringan yang diketahui umat manusia sampai sekarang. Oleh karena itu, biji ini sering digunakan untuk menimbang berat yang sangat detil dan halus.
Tumbuhan sawi hitam adalah Brassica nigra, termasuk family Crucifera. Ia adalah tumbuhan menjalar yang tingginya bias mencapai satu meter atau lebih. Buahnya adalah sawi halus. Pohon tersebut berdiri tegak diatas batangnya yang mengandung sekitar 10-12 butir halus yang hitam legam warnanya.
Biji-biji sawi hitam itu kadang kala juga disebut dengan nama sawi coklat atau sawi merah, karena ia memiliki warna coklat merah kehitaman atau coklat abu. Dalam kondisi-kondisi tertentu warnanya dekat kearah hitam. Acapkali bagian yang menutupi biji secara parsial itu adalah kulit yang putih dan sangat lembut, yang lengket dan kering permukaannya. Bentuknya nyaris bulat sempurna, ukurannya sangat kecil, diameternya hanya sekitar 1 milimeter. Pada setiap 100 biji beratnya hanya berkisar antara 0,14-0,17 gram. Dindingnya lunak dan getas sedangkan atapnya tipis dan bercampur aduk. Pusarnya tampak seperti satu titik koma, menempel pada atap bagian dalam. Pada dinding terdapat penutup yang tipis, seperti sisa-sisa endosebrum. Bijinya berminyak, warnanya kuning kehijau-hijau, terbentuk dari bakal biji yang memiliki dua keping ( dikotil ) yang terlipat. Biji satu dengan yang lainnya serta batang saling berdekapan di bawah dua keping yang terlipat itu di atas punggung salah satu dari keduanya. Posisi seperti itu dianggap sebagai dua punggung sedangkan dua keeping itu dianggap sebagai dua lutut diatas biji. Dua keping yang terlipat itu, karena lamanya, menjadi berdekapan secara parsial dengan akar dan batang dibawah masing-masing keping yang memiliki dua punggung. Biji-bijinya tak berbau sedikitpun, rasanya pahit dan sangat pedas. Apabila biji-biji ini tenggelam dan bercampur dengan air maka terciumlah bau yang sangat nyengat.
Sawi hitam mengandung bahan yang dapat menempel pada kulit secara langsung. Pada bakal bijinya terdapat sekitar 27 % minyak yang tak berubah, sekitar 29 % protein, dan sekitar 4 % glukosid sinkrin. Selain itu dijumpai pula adanya enzim mirosin dan sedikit kandungan asam sulfur uap ( fuming sulfuric acid ). Sinkrin ini juga dikenal dengan minyak potassium. Sinkrin  ini terurai di dalam enzim mirosin dan air menjadi glukosa, sulfur, potasium, asam Esosinat.
Biji sawi hitam digunakan sebagai pemerah kulit, penyembuh hilang ingatan ( amnesia ), menghilangkan rasa perih. Akan tetapi penggunaannya secara terus menerus akan menyebabkan melepuhnya kulit. Sawi juga digunakan untuk bumbu atau rempah-rempah, tetapi penggunaan yang terlalu banyak akan menyebabkan muntah.
2.2.2 Sawi Putih ( Brassica alba )
Tumbuhan sawi putih adalah Brassica alba, termasuk family Cruciferae, kokoh sebagaimana tumbuhan sawi hitam. Perkembang biakannya juga seperti sawi hitam, yakni dengan memekarkan dirinya, akan tetapi buahnya berbeda dengan sawi hitam karena bentuknya berbulu halus tidak licin, letaknya datar dan sejajar dengan tumbuhan, tidak berada di bagian atasnya. Buah sawi mengandung sejumlah biji sawi, paling sedikit jumlahnya berkisar antara 4-6 saja, bentuknya lebih besar dari pada biji sawi hitam.
Biji sawi putih warnanya kekuning-kuningan, bentuknya nyaris bulat penuh, diameternya sekitar 2 milimeter. Walau kecil, biji itu tetap tampak dalam pandangan mata telanjang, tetapi sebenarnya ia berlubangn dengan lubang sangat kecil.
Biji sawi putih mengandung sekitar 30 % minyak yang tak berubah, biasanya didapati pada kulitnya yang keras sekitar 25 % protein. Biji yang masak tak mengandung zat tepung sama sekali. Ia mensuplai sekitar 4 % abu. Lebih dari itu, biji-biji itu mengandung glukosid yang mengkristal menjadi Cynalipin, demikian pula enzim yang ada di dalam sawi, yakni mirosin.   
2.3  Pendapat Ulama Dalam Tafsir Al Qur’an
2.3.1      Q.S Al Anbiya’ ( 21 ) : 47

Artinya : ” Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, Maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun, dan jika ( amalan itu ) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan ( Pahala ) baginya., dan cukuplah Kami sebagai Pembuat Perhitungan ”.
Menurut tafsir Al Misbah, penjelasan dari surat Al Anbiya’ ayat 47 sebagai berikut :
Jangan duga bahwa siksa yang mereka peroleh itu sewenang-wenang, atau tanpa tolok ukur yang adil sehingga mereka teraniaya. Tidak ! Kami akan memasang timbangan yang adil pada hari Kiamat, untuk menjadi tolok ukur kebaikan dan keburukan amalan serta kualitasnya maka disana tiadalah dirugikan seseorang walau sedikit pundengan penambahan keburukannya atau pengurangan kebaikannya. Dan walau amalan kebaikan hanya seberat biji sawi ( moster ) pasti Kami mendatangkan pahala-nya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan.
Kata mawazin adalah bentuk jamak dari kata mizan. Ini agaknya mengisyaratkan, bahwa setiap amal yang lahir maupun yang batin, kelak akan ditimbang atau mempunyai tolok ukur masing-masing. Sehingga semua amal benar-benar menghasilkan ketepatan timbangan.
Mayoritas ulama berpendapat, bahwa amal kebaikan dan kejahatan masing-masing orang ditimbang, dan mana yang berat itulah yang menentukan kebahagiaan dan kesengsaraan manusia. Thabathaba’I mempunyai pendapat lain. Menurutnya, kalau demikian itu cara penimbangan dihari kemudian, maka tidak mustahil- paling tidak dalam benak- terjadinya persamaan kedua sisi timbangan, sebagaimana sering terjadi dalam penimbangan kita didunia. Ulama beraliran Syi’ah ini menjelaskan lebih jauh bahwa menurut pemahamannya, amal-amal kebajikan menampakkan berat timbangan, sedang amal-amal buruk menampakkan ringan, ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Surat Al Mu’minun ayat 102-103, yang berbunyi :

Artinya: “ Barang siapa berat timbangan-timbangannya yakni amal-amal kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung “. Demikian pula sebaliknya, “ dan barang siapa yang ringan timbangan-timbangannya, maka itulah orang-orang yang merugi dirinya “ ( Q.S Al Mu’minun (23) : 102-102 ).
Demikian juga bunyi sekian banyak ayat antara lain ( Q.S Al Qari’ah (101) : 5-9 ). Ayat-ayat itu selalu menjadikan sisi kebaikan yang berat dan sisi keburukan yang ringan. Thabathaba’I ingin sampai kepada kesimpulan, bahwa seandainya cara penimbangan ketika itu sama dengan cara yang disebut oleh mayoritas ulama itu, maka tentu ayat-ayat tersebut akan berkata siapa yang berat amak keburukannya, bukan berkata siapa yang ringan timbangan-timbangannya. Dari sini Thabathaba’I berpendapat, bahwa nalar mengharuskan kita berkata bahwa ada sesuatu sebagai tolok ukur yang digunakan mengukur atau menimbang amal-amal dan beratnya. Amal-amal yang baik, beratnya sesuai dengan tolok ukur yang digunakan itu, dan itulah yang menunjukkan beratnya timbangan, sedang amal-amal yang buruk tidak sesuai dengan tolok ukur itu, maka ia tidak perlu ditimbang, atau kalaupun ditimbang ia amat ringan. Ini serupa dengan dengan timbangan yang kita kenal. Ia memiliki anak timbangan yang menjadi tolok ukur dan yang diletakkan di satu bagian dari sayap timbangan, misalnya sisinya yang disebelah kiri, kemudian barang yang akan ditimbang diletakkan di sayapnya yang sebelah kanan. Kalau apa yang ditimbang itu sesuai beratnya dengan apa yang menjadi tolak ukurnya, maka ia diterima, dan bila tidak, maka ia akan ditolak. Ia ditolak karena ia ringan dan menjadikan kedua sayap timbangan tidak seimbang. Sebagai contoh, jika anda mensyaratkan berat satu barang yang anda akan beli 2 kg, maka anda akan menggunakan timbangan yang memiliki tolok ukur berupa anak timbangan, yang menunjukkan apakah barang tersebut telah memenuhi syarat yang anda tetapkan itu ?( 2 kg ) atau belum. Ketika itu, anda akan menggunakan timbangan. Kalau berat barang itu sesuai dengan syarat yang anda kehendaki, yakni 2 kg berdasar keseimbangan timbangan antara anak timbangan dan barang yang anda akan beli, maka anda menerima barang itu, sedang kalau tidak sesuai, maka anda akan menolaknya. Semakin kurang syarat yang dibutuhkan oleh satu barang, maka semakin ringan pula timbangannya. Jika demikian, yang tidak memenuhi syarat atau dengan kata lain amal-amal buruk,pastilah timbangannya ringan, sedang yang baik akan berat atau sesuai dengan anak timbangan. Setiap amal ada tolok ukurnya untuk diterima Allah SWT, sedang yang tidak memenuhi tolok ukur itu akan ditolak. Persis seperti anak timbangan, ada yang satu ons, seperempat atau setengah kilo dan seterusnya. Semakin banyak amal baik, semakin berat timbangan dan semakin banyak amal buruk, semakin ringan timbangan, bahkan bias jadi timbangan seseorang tidak memiliki benar sama sekali. Shalat yang diterima ada syarat berat yang harus dipenuhinya, kalau kurang dari syarat itu, ia tertolak, demikian juga zakat, haji dan setiap amal baik manusia.
Sungguh tepat ayat ini menggunakan kata biji moster, untuk menggambarkan ringannya sesuatu melalui penelitian para pakar, diketahui bahwa 1 kg biji moster terdiri atas 913.000 butir. Dengan demikian, berat satu butir biji moster hanya sekitar satu per seribu gram, atau 1 mg, dan merupakan biji-bijian teringan yang diketahui umat manusia sampai sekarang. Oleh karena itu, biji ini sering digunakan oleh Al Qur’an untuk menunjuk sesuatu yang sangat kecil dan halus.
2.3.2 Q.S Luqman ( 31 ) : 16
Artinya :
“ (Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus[1181] lagi Maha Mengetahui. ( Q.S Luqman ( 31 ) : 16 ).
[1181]. Yang dimaksud dengan Allah Maha Halus ialah ilmu Allah itu meliputi segala sesuatu bagaimana kecilnya.
Setelah penerangan selingan di dalam nasehat Luqman kepada anaknya itu, Al Qur’an menyambung pula nasehat Luqman yang berikut untuk menjelaskan persoalan hari Akhirat dengan hisabnya yang amat halus dan balasannya yang amat adil. Tetapi hakikat hisab dan balasan ini tidak dijelaskan secara bersendirian saja, malah dikemukakan didalam ruangan alam buana yang luas dan dengan gambaran yang berkesan, yang membuat hati menggigil apabila ia menyadari ilmu Allah yang meliputi segala-galanya, yaitu ilmu Allah yang amat halus dan seni.
Menurut Tafsir Fi Zilalil Quran, Tiada satu pengungkapan mengenai kehalusan dan kesyumulan ilmu Allah dan qudrat-Nya, juga mengenai kehalusan hisab dan keadilan pertimbangan Allah yang dapat mendampingi pengungkapan al-Quran ini. ltulah kelebihan al-Quran yang penuh mukjizat, indah dan mendalam penerangannya12 . Sebiji sawi yang kecil, terbuang dan tiada nilai tersembunyi dalam sebiji batu yang pejal, ia tidak kelihaan dan tidak dapat dihubungi “atau berada di langit” iaitu di angkasa raya yang maha luas, di mana bintang yang besar kelihatan seperti sebiji noktah yang terapung-apung atau sebiji debu yang sesat “atau di bumi” Ia hilang tidak kelihatan di dalam debu-debu tanah dan batu-batunya “nescaya akan dibawakannya oleh Allah” yakni ilmu Allah tetap mengikutinya dan qudrat Allah tetap menangkapnya “sesungguhnya Allah Maha Halus dan Maha Pakar”. Ini adalah satu kesimpulan yang amat sesuai dengan pemandangan sesuatu yang tersembunyi dan seni. Daya khayal kita terus mengikuti biji sawi di tempat persembunyiannya yang amat dalam dan luas itu, dan menyedari bahawa ilmu Allah tetap mengikuti biji sawi itu hingga hati kita menjadi khusyu’ dan kembali kepada Allah Yang Maha halus dan mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi. Dan di sebalik itu tertanamlah hakikat persoalan hari Akhirat yang mahu ditanamkan oleh al-Quranul-Karim ke dalam hati manusia dengan cara penerangan yang amat menarik ini.
Menurut tafsir Ibnu Katsir, Didalam surat Luqman ayat 16 ini, adalah wasiat-wasiat bermanfaat yang diceritakn oleh Allah SWT agar manusia menjunjung tinggi dan mentauladaninya. Dia berkata : ” Hai anakku, sesungguhnya jika ada ( sesuatu perbuatan ) seberat biji sawi, ” yaitu kezhaliman dan kesalahan, sekalipun seberat biji sawi. Sedangkan sebagian ulama menyatakan bahwa dhamir pada firman-Nya adalah dhamir sya-n dan kisah ( yang tidak mempunyai arti ). Serta atas dasar ini, kata mistqala dijadikan rafa’ dan pendapat pertama lebih utama.
Firman Allah SWT, ” Niscaya Allah akan mendatangkannya ( membalasnya ), ” Allah akan menghadirkannya pada hari kiamat ketika Dia mendirikan timbangan keadilan serta membalasnya. Jika kebaikan, maka dia akan dibalas dengan kebaikan dan jika keburukan, dia akan dibalas dengan keburukan.




BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
     Kesimpulan yang dapat diambil setelah adanya penjelasan yang didukung oleh literature, yaitu :
  1. Kata Khardal  yang dimaksud dalam Al Qur’an adalah biji sawi, hal ini dikaitkan dengan amal perbuatan manusia, sekecil apapun amal perbuatan manusia, entah itu kebaikan ataupun keburukan, akan tetap ditimbang pada hari akhir nanti, karena meskipun hanya seberat biji sawi, itu tetap perbuatan manusia, jadi tidak akan ada yang dirugikan
  2. 2.    Sawi sangat baik untuk menghilangkan rasa gatal di tenggorokan pada penderita batuk. Penyembuh penyakit kepala, bahan pembersih darah, memperbaiki fungsi ginjal, serta memperbaiki dan memperlancar pencernaan. Sedangkan kandungan yang terdapat pada sawi adalah protein, lemak, karbohidrat, Ca, P, Fe, Vitamin A, Vitamin B, dan Vitamin C. Biji sawi hitam digunakan sebagai perisa acar, daging, ikan, jeruk, salad, snek dan sos sejak zaman purba lagi.
  3. 3.    Penyebutan kata Khardal didalam Al Qur’an itu berkaitan dengan biji sawi, karena biji sawi merupakan benda yang paling kecil yang ada di dunia ini. Di dalam Al Qur’an telah dijelaskan bahwa amalan perbuatan manusia, kebaikan dan keburukan akan tetap ada perhitungannya meskipun Cuma sebesar biji sawi

3.2        Saran
  1. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih, sebaiknya literature dari buku dan tafsir yang digunakan lebih lengkap dan dari berbagai sumber



DAFTAR PUSTAKA

Cak Mus . 2011. Dunia Tumbuhan . ( http:// www.plantamor.com )
Farooqi, Dr. M.I.H. 2005. Terapi Herbal Cara Islam. Jakarta : PT. Mizan Publika
Ghoffar, Abdul dkk. 2007. Tafsir Ibnu Katsir Jilid 6. Jakarta : Pustaka Imam As Syafi’i
Himapetra. 2007. Tanaman Sawi-Sawian. Pasuruan . ( http:// www.Blog. Himapetra.com )
Plantamor. 2011. Sistematika Taksonomi Tumbuhan. ( http:// www.Plantamor.com )
Rihan, Irwan. 2005. Al Qur’an Bertutur Tentang Makanan Dan Obat-Obatan. Yogyakarta : Mitra Pustaka
Shihab, M.Quraish. 2002. Tafsir Al—Misbah. Jakarta : Lentera Hati
Qutb, Sayyid. 2004. Tafsir Fi Zialil Qur’an. Jakarta : PT. Mizan Publika
Wannura. 2007. Koleksi Tumbuhan. ( http:// www.blogspot.com )

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SEMANGAT PAGI....SUKSES Untuk SEMUA
JIKA ANDA PIKIR BISA PASTI BISA..!
Maaf apabila dalam pengambilan GAMBAR dirasa VULGAR
(Gambaran ini Hanyalah FAKTA sesuai dengan ASLINYA)
dan TIDAK Mutlak untuk diperdebatkan......................!!!

KALAU MAU DONATUR ( SEDEKAH )

Sedekah (Bisa Menunda Kematian)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
KLCK aja ICON dibawah untuk Baca berita
Link-link My Country Dept.(Tinggal Klick GAMBARnya AJA)