PRIMBON RAMALAN JODOH



DAFTAR SAHABAT YG MASUK The truth seeker
Tidak harus menjadi yang pertama,yang penting itu menjadi orang yang melakukan sesuatu dengan sepenuh hati.
HTML Counter

Sejak : 17 Agustus 2011

ISI DI BLOG INI HANYA GAMBARAN-GAMBARAN HIDUP YANG HAKIKI
Dan Merupakan Album yang berisi catatan yang saya tulis dalam perjalanan waktu.
Catatan yang terinspirasi dari apa yang saya lihat, saya baca, saya dengar, dan saya rasakan
MAAF JIKA GAMBAR GAMBAR yang kami Ambil Dirasa FULGAR dan UNCENCORED
Disclaimer: Artikel, gambar ataupun video yang ada di blog ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain,
dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain tersebut. Jika kami salah dalam menentukan sumber yang pertama, mohon beritahu kami

e-mail primbondonit@gmail.com HOTLINE SMS 0271 9530328
GAMBAR-GAMBAR dibawah ini BUKAN HANYA IKLAN tapi merupakan LINK SUMBER


Bagi sebagian masyarakat yang mengklaim diri sebagai masyarakat peradaban modern, westernism bahkan sebagian yang mengesankan perilaku agamis yakni hanya bermain-main sebatas pada simbol-simbol agama saja tanpa mengerti hakekatnya, dan kesadarannya masih sangat terkotak oleh dogma agama-agama tertentu. Manakala mendengar istilah mistik, akan timbul konotasi negatif. Walau bermakna sama, namun perbedaan bahasa dan istilah yang digunakan, terkadang membuat orang dengan mudah terjerumus ke dalam pola pikir yang sempit dan hipokrit. Itulah piciknya manusia yang tanpa sadar masih dipelihara hingga akhir hayat. Selama puluhan tahun, kata-kata mistik mengalami intimidasi dari berbagai kalangan terutama kaum modernism, westernisme dan agamisme. Mistik dikonotasikan sebagai pemahaman yang sempit, irasional, dan primitive. Bahkan kaum mistisisme mendapat pencitraan secara negative dari kalangan kaum modern sebagai paham yang kuno, Pandangan itu salah besar. Tentu saja penilaian itu mengabaikan kaidah ilmiah. Penilaian bersifat tendensius lebih mengutamakan kepentingan kelompoknya sendiri, kepentingan rezim, dan kepentingan egoisme (keakuan). Penilaian juga rentan terkonaminasi oleh pola-pola pikir primordialisme dan fanatisme golongan, diikuti oleh pihak-pihak tertentu hanya berdasarkan sikap ikut-ikutan, dengan tanpa mau memahami arti dan makna istilah yang sesungguhnya. Apalagi dalam roda perputaran zaman sekarang, di mana orang salah akan berlagak selalu benar. Orang bodoh menuduh orang lain yang bodoh. Emas dianggap Loyang. Besi dikira emas. Yang asli dianggap palsu, yang palsu dibilang asli. Semua serba salah kaprah, dan hidup penuh dengan kepalsuan-kepalsuan. Untuk itulah Warisjati merangkum beragam artikel dari beberapa sumber tentang pengetahuan Budaya dan tradisi di Nusantara yang merupakan warisan para leluhur yang sarat akan makna dan berbagai artikel lainnya yang saling melengkapi. Dengan harapan membangun sikap arif dan bijaksana dan mengambil pelajaran serta pengetahuan dari budaya masa lalu sebagai warisan leluhur di Nusantara ini.

ORANG YANG DENGAN MUDAHNYA MENGATAKAN SESAT KEPADA SESEORANG
ADALAH ORANG YANG TIDAK atau BELUM PAHAM AKAN DIRINYA SENDIRI

Cari Disini Artikel Yang ANDA INGINKAN INSYA ALLAH ada di BLOG INI

Senin, 26 November 2012

Pura Dalem Agung Payangan

Pura Dalem Agung Payangan

SEJARAH KAHYANGAN DI BUMI PAYANGAN KEKUATAN TUHAN YANG UTAMA


Payangan adalah salah satu Kecamatan di kabupaten Gianyar yang berada diketinggian 600 meter diatas permukaan laut yang berbatasan langsung dengan wilayah bukit Kintamani Bangli sehingga daerah ini terkenal sangat subur terutama dalam pertanian maupun perkebunan sayur-mayur,kopi,coklat dll. Pada jaman dahulu nama daerah Payangan adalah Parahyangan yang berarti Kahyangan,karena jauh sebelum kedatangan Rsi Markandeya abad ke-8 ke Nusa Dawa/Bali tempat ini adalah sebagai pancer Hyang suci berstana dengan kata lain Bumi Parahyangan adalah sebagai tempat stana melinggihnya para Hyang Bhatara-Bhatari.oleh karena itu Rsi Markandeya memberi nama Parahyangan dengan Desanya Melinggih yang artinya linggih/Pijakan Suci Para Dewa dan nama Parahyangan sendiri yang secara singkat pada saat ini pengucapannya menjadi Payangan.
Rsi Markandeya penganut faham Siwa beliau juga seorang yogi yang berasal dari India,beliau yang pertama kali datang bersama pengikutnya yaitu wong aga ke Bali setelah kegagalan pertamanya di Hutan alas angker taro payangan yang mana banyak dari pengikutnya mati dikarenakan terkena wabah penyakit,diterkam binatang buas dll. Karena pulau bali pada saat itu alamnya masih pingit/angker,oleh karena itu beliau kembali ke pertapaannya di Gunung Raung,jawa timur dan memohon petunjuk kepada Hyang Pasupati agar di berikan jalan kemudahan dan keselamatan,saat itulah ia diperintahkan agar menanam lima unsur logam mulia yang terdiri dari emas,perak,tembaga,besi dan mirah di lereng Gunung Tohlangkir/Gunung Agung/Giri Raja sebagai simbol kekuatan dunia dan alam semesta.

Setibanya beliau beserta pengikutnya kembali ke Pulau Dawa/Bali tepatnya di lereng Gunung Tohlangkir dan memulai ritual menanam Panca Datu yang tujuan utamanya adalah memohon kepada Hyang Siwa Mahadewa sebagai penguasa Gunung Tohlangkir agar yadnya ini berjalan dengan baik dan sempurna,setelah menanam Panca Datu di lereng Gunung Tohlangkir sebagai syarat dasar kekuatan Jagat Bali.dimana daerah saat menanam panca datu itu diberi nama Besukih/Besakih yang artinya selalu tentram,selamat dan rahayu.setelah selesai melakukan pengurip jagat,beliau mendapatkan sabda wahyu dari Hyang Siwa Mahadewa agar membangun salah satu Parahyangan beliau yang terletak di murwaning bumi/pusat bumi,karena di sanalah keberadaan beliau sebagai murti (sakti) dari para Hyang Bhatara-Bhatari berada sehingga harus distanakan dan dilinggihkan,dan saat itulah dengan keteguhan jiwa dan keiklasan beliau bersama pengikutnya berjalan menuju daerah tujuan yaitu pusat murwaning bumi.
Pada saat di perjalanan beliau tiba di suatu daerah yang diyakini sebagai murwaning bumi/pusat bumi,beliau merasakan aura spiritual yang sangat dahsyat,sehingga sangat tepat sekali bahwa sabda Hyang Siwa Mahadewa menginginkan agar dibuatkannya sebuah Parahyangan Dewata di daerah ini.Sehingga saat itulah beliau membangun Kahyangan di Parahyangan para Dewata pertama kalinya yaitu Kahyangan Murwa Bumi yang berarti Muara/Pusat Bumi dan juga sebagai simbol segala kehidupan yang ada.keberadaan Rsi Markandeya sebagai pemimpin rohaniawan wong aga di Bumi Parahyangan,memberikan berbagai macam pelajaran kepada pengikutnya terutama tentang ajaran Siwa dengan berbagai aliran yang disebut sekte Siwa yang terlahir menjadi berbagai macam sekte yaitu Siwa sidantha,Pasupata,Bhairawa,Kalamukha,Sambhu dan linggayat sekte-sekte tersebut menjadi simbol pemujaan utama kepada Dewa Siwa di pulau bali dan ini membuktikan juga bahwa kekhususan daerah Payangan/Parahyangan sebagai tempat Suci dan Mulia pada saat itu.
                           
                           Kori Agung Pura Dalem Agung  Payangan


Salah satu Kahyangan Tua/Pura Kuno di wilayah Payangan adalah Pura Dalem Agung Payangan,mengenai asal-usul berdirinya pura keramat dan tertua ini adalah sebagai Parahyangan ida Bhatari Dalem lingsir yang bergelar Bhatari Durga Murti sakti dari Dewa Siwa/Bhatara Guru dan mengapa dikatakan lingsir karena Pura Dalem Agung ini yang pertama kali ada di Payangan dan juga sebagai satu-satunya Pura Dalem tertua di Bali sehingga masyarakat pada umumnya khususnya Payangan sering menyebutnya Dalem tua.
Pura Dalem Agung Payangan ini sangat erat kaitannya dengan Pura Murwa Bumi dan pada jaman dahulu penyebutan Pura belum di kenal yang ada hanya Kahyangan.Seperti menurut beberapa penglingsir Desa adat Sema,Payangan yang menyebutkan Pura Dalem Agung ini dulunya juga sering di sebut Kahyangan Dalem Purwa Bumi yang keberadaannya sebagai pendamping (Pradana) dari Kahyangan Murwa Bumi sebagai (Purusa) yang terletak di Banjar Pengaji,Payangan dan bukti-bukti lainnya seperti lontar Markandeya Purana Tatwa yang tersimpan baik di Pura Penataran Agung Besakih menyebutkan bahwa ada setelah Rsi Markandeya membangun Kahyangan Amurwa Bumi (Murwa Bumi) ring Parahyangan setelah itu juga kembali Rsi Markandeya membangun Kahyangan Dalem Purwa (Purwa Bumi) ring Parahyangan,sehingga keberadaan kedua Pura ini di Bali adalah sebagai salah satu dasar kekuatan spiritual di Pulau Bali khususnya wilayah Bali tengah yang di perlambangkan sebagai simbol Bhuwana Agung yaitu kekuatan Tuhan sebagai Purusa-Pradana di Bumi (ngadeg ring Bumi). 

Pada saat Rsi Markandeya kembali ke Gunung Raung di Jawa Timur untuk mencapai moksa,Kahyangan Dalem Purwa (Purwa Bumi) ini oleh masyarakat Bali Aga digunakan sebagai tempat pemujaan sekte Bhairawa untuk memuliakan Dewa Siwa dan saktinya Durga/Bhairawi dan kemudian pada abad ke-11 saat kerajaan Bali kuna yang dipimpin oleh Raja Sri Udayana Gunapria Dharmapatni agar Mpu Kuturan merubah beberapa sistem sekte di Bali dikarenakan banyaknya sekte-sekte baru yang berkembang seperti sekte Brahma,Ganapati,Waisnawa,Surya,Indra,Rsi dan Budha pada saat itu.termasuk Kahyangan Dalem Purwa (Purwa Bumi) yang kemudian menjadi Kahyangan Tiga Dalem lan Setra sebagai pemujaan utama kepada Dewa Siwa dan Dewi Durga. Sehingga saat datangnya kerajaan Payangan dari Gelgel Klungkung di abad ke-16 sebagai penguasa daerah Payangan sekaligus sebagai pengabih Ida Bhatari Dalem lingsir yang menjadikan Kahyangan Dalem Purwa (Purwa Bumi) ini berubah nama dan statusnya menjadi Pura Dalem Agung Payangan yang berarti Pura Dalem yang utama dan terbesar serta sebagai pusat/induk dari seluruh Pura Dalem Kahyangan tiga di desa-desa wilayah kecamatan Payangan.


                       Arca Pralingga Pura Dalem Agung Payangan

Pura Dalem Agung ini terdapat berbagai peninggalan berupa arca pralingga dewa dengan berbagai bentuk dan ukuran yang terbuat dari batu padas sehingga terlihat jelas kesederhanaan dalam pembuatan arca patung tersebut pada masa lampau seperti arca bedogol raksasa-raksasi,arca dewa menunggang harimau,arca dewa siwa menunggang Nandini,arca singa,arca pendeta/Rsi,arca bedogol durga Bairawi dll. belum lagi menurut Jro Mangku Gede ada beberapa arca-arca patung yang rusak karena sudah terlalu tua sehingga digunakan sebagai dasar utama bangunan di masing-masing pelinggih Pura Dalem Agung Payangan ini.


                                    Dewa Siwa  &  Dewi Uma / Durga

Keunikan : 
  • Pura Dalem Agung Payangan memiliki berbagai keunikan yaitu adanya Bale Pejagalan/Bale timbang yang terletak di Madya Mandala dan berfungsi secara niskala Bale Pejagalan ini untuk menimbang baik buruknya perbuatan roh manusia di Dunia (marcapada) atau dapat juga disebut sebagai Akhiratnya Dunia.   
  • Terdapatnya Gedong Pemijilan Agung yang artinya Pemijilan adalah (mijil) suatu permulaan/awal sehingga Pura Dalem Agung Payangan adalah Pura Dalem yang paling awal ada di Bali dan juga sebagai tempat stana Bhatara Guru (Dewa Siwa) sehingga Pura Dalem Agung Payangan ini memiliki simbol pemujaan utama Purusa dan Pradana.
  • Terdapatnya Pelinggih Banaspati yang secara mitologi Hindu Banaspati adalah Raja Jin,Setan,Gandarwa,Roh halus,Penguasa Hutan Angker dll. Fungsi  beliau di Pura Dalem Agung Payangan ini sebagai pepatih dari  Ida Bhatari Dalem Lingsir.
  • Adanya Pelinggih Bujangga yang sejak jaman dahulu apabila ada odalan gede/ageng selain Jro Mangku sudah ada yang memuput di alam luhur (Bhatara) beliau adalah ida Bujangga Siwa Sakti dan pada pelinggih Bujangga tersebut tersedia peralatan-peralatan upacara lengkap seperti halnya ida Pandita maupun ida Pedanda di pelinggih Bujangga tersebut.
  • Keunikan lainnya dan tradisi di Pura Dalem Agung Payangan adalah Jro Mangku tidak mempergunakan Genta/Bajra dalam melaksanakan Upacara keagamaan di Pura Dalem Agung Payangan dan hal ini membuktikan ciri khas dari Pura Tua di Bali.


              Tegik Pemuwunan Agung  (Pura Dalem Agung Payangan)


Tegik Pemuwunan Agung berada tepat di depan Pura Mrajapati yang berdampingan langsung dengan Pura Dalem Agung Payangan dan fungsi utama dari Tegik pemuwunan Agung selain sebagai tempat Pasupati/ngerehin Ratu Rangda dan Ratu tapakan Barong juga pada jaman Kerajaan sebagai tempat pemuwunan utama jenazah Raja Payangan sehingga status Tegik Pemuwunan Agung lebih tinggi dibandingkan dengan Pemuwunan biasa pada umumnya di Kahyangan tiga Pura Dalem lain yang ada di Bali karena Tegik pemuwunan Agung di perlambangkan Gunung sebagai stana ritual Dewa siwa dalam wujud Hyang Siwa Bhairawa atau Bergelar Rudra Murti manifestasi Ida Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) dalam melebur segala unsur ciptaannya.

Bentuk Tegik Pemuwunan Agung ini sebagai yang tertinggi dan terbesar di Payangan yang mencapai tinggi Tegik lebih dari tiga meter dan menurut keyakinan turun-temurun masyarakat desa adat setempat awal Pembangunan Tegik Pura Dalem Agung Payangan ini di jaman dahulu menggunakan penyamblehan Caru lima kepala manusia/tenggek sebagai Dasarnya dan Darah dari kepala manusia sebagai perekat dari bangunan Tegik pemuwunan Agung tersebut. sehingga Tegik tersebut menjadi kokoh,beraura Magis dan bertaksu sehingga apapun baik itu Barong,tapel,keris pejenengan,benda-benda bertuah lainnya kalau di Pasupati tepat berada di atas Tegik Pemuwunan Agung tersebut akan terlihat perbedaannya dan jauh memiliki kekuatan Magis dari sebelumnya.


              Utama  Mandala / Jeroan Pura  Dalem Agung  Payangan

Pura Dalem Agung Payangan dibagi menjadi Tri Mandala yaitu Nista Mandala,Madya Mandala dan Utama Mandala tetapi Pura Dalem Agung ini memiliki perbedaan tersendiri dan mungkin hanya ada satu-satunya di Bali Pura Dalem yang bagian Utama Mandala benar-benar turun ke Dalam/Dalem yang arti sebenarnya nama dari Dalem bukan berarti Dalem Raja melainkan sulit di dekati atau jauh ke Dalam (Siwa-Durga) sehingga ada istilah Tuhan tidak akan mudah di dekati terkecuali manusia tersebut sudah dalam pencerahan Spiritual tingkat tinggi atau menjauhi sifat duniawi menuju kesucian dan keiklasan lahir bathin atau dapat kembali kepada Sang Pencipta melalui kematian. begitu juga dengan ajaran Durga kiwa (kiri) dan Siwa tengen (kanan) dan inilah yang di sebut Rwa Bhineda siklus kehidupan dan baik buruknya Dunia semua ada di Pura Dalem Agung Payangan ini sehingga siapapun boleh menghaturkan sembah di Pura Dalem ini tanpa adanya perbedaan status,golongan kasta maupun jabatan karena Pura ini adalah Sthana utama dari Dewa Siwa dan Dewi Uma/Durga yang memberikan anugrah keselamatan,panjang umur maupun Taksu Duniawi kepada setiap umat manusia di muka Bumi ini.

Relief Kuno Utama Mandala Pura Dalem Agung Payangan

Pada jaman Kerajaan Payangan Raja dan Masyarakat berkeinginan untuk merubah sistem Tri Mandala Pura Dalem Agung Payangan ini agar sama dengan Pura Dalem lainnya yang ada di Bali yaitu Madya Mandala dan Utama Mandala (Jeroan) bertahap ke Atas atau pun sejajar, tetapi entah kenapa terjadi keanehan yaitu tanah yang sudah diratakan/diurug sebagai dasar Utama Mandala tidak kunjung penuh maupun tinggi sebagai mana yang diharapkan dan lebih anehnya lagi secara tiba-tiba Taru Beringin yang berusia ratusan tahun tumbang seketika menimpa Bale Paruman sebagai suatu pertanda bahwa Ida Bhatari tidak menyetujui kegiatan ini dan ternyata benar menurut Jro Mangku lingsir sebagai pengempon Pura Dalem Agung Payangan mengatakan bahwa Ida Bhatari yang melinggih di Dalem Agung ini tidak berkenan kalau Parahyangannya/Pura di Rusak atau pun dirubah dan Ida Bhatari berkeinginan biarkan seperti apa adanya sama halnya pada saat Parahyangan ini ada di Bumi Payangan dan apabila kegiatan ini masih dilanjutkan akan ada resiko sangat besar yaitu berupa bencana baik itu Sekala maupun Niskala dengan adanya hal tersebut Masyarakat dan Puri Payangan tidak berani mengambil resiko tersebut dikarenakan takut akan kemarahan (Kroda) Ida Bhatari Dalem Agung yang tidak lain adalah Dewi Durga beliaulah yang mengendalikan Urip/hidup Matinya Manusia di Dunia (Pralina) dengan kekuatan Sakti dari Dewa Siwa dalam melebur alam semesta beserta isinya dan semenjak saat itu Utama Mandala di Pura Dalem Agung Payangan tetap seperti aslinya.


                              Mrajapati Pura Dalem Agung Payangan
Ajaran Sadcakra yaitu ajaran tentang enam kekuatan dalam tubuh dan ajaran mengenai Kundalini yang hidup dalam tubuh manusia yang bersumber dari sekte Bhairawa (Siwa-Durga). Menurut ajaran sekte ini dan rontal-rontal yang termuat dalam tantrayana seperti lontar Gong Besi yang menyebutkan lingkaran Muladara dalam bagian perut pusar manusia yang berada di bawah adalah berbentuk Lingga Siwa dan yang mengelilinginya dengan tiga setengah adalah Dewi Durga itu sendiri dan dengan latihan-latihan khusus Cakra Durga ini dapat dibangunkan dari sikap tidurnya yang melingkar dan naik sampai ke lingkaran-lingkaran halus badan yang paling tinggi.
Istilah ajaran Tantrayana berasal dari akar kata “Tan”  yang artinya memaparkan kesaktian atau kekuatan dari pada Dewa itu. Di India penganut Tantrisme identik dengan Dewa Siwa dan banyak terdapat di India Selatan dan india tengah dibandingkan dengan India Utara. Kitab-kitab yang memuat ajaran Tantrayana banyak sekali dan di Indonesia dari Tantrisme munculah suatu faham “Bhairawa” atau “Bhairawi” yang artinya hebat/Dahsyat.

Dalam upacara memuja Bhairawa sudah dilakukan selama ribuan tahun oleh para penganut aliran Tantrayana dan aliran ini biasanya diterapkan oleh para Yogi/Rsi yaitu dengan cara agar dapat bersatu dengan Dewa Siwa pada saat mereka masih hidup karena pada umumnya mereka bersatu atau bertemu dengan para dewa pada saat setelah mati sehingga mereka melakukan upacara jalan pintas yang disebut dengan ritual Pancamakarapuja di kuburan maupun di Tempat pembakaran mayat dengan cara seseorang melakukan sembah bhakti kepada Dewa Siwa.    
Mitologi India menyebutkan bahwa Gunung Himalaya adalah tempat Kahyangan Dewa Siwa tetapi beliau lebih senang bepergian ke Bumi terutama di tempat-tempat angker seperti kuburan maupun tempat pembakaran mayat karena beliau selalu melakukan ritual misterius sehingga beliau juga bergelar sebagai Rudra Murti (Pelebur tertinggi) karena mengetahui hal tersebut manusia melakukan puja bhakti itu di kuburan maupun pembakaran mayat agar mendapatkan anugerah kesaktian maupun Sidhi dari Dewa Siwa itu sendiri.


                              Dewa Siwa  Durga Sakti Dewi Mahakali

Pada jaman dahulu di Nusantara penjagaan keamanan dan pengendalian pemerintahan di wilayah kekuasaan berdasarkan pada kharisma dan kekuasaan Raja. Seperti di abad ke-12 Raja Jawa Singasari yaitu Kertanegara menganut Bhairawa Kalacakra untuk mengimbangi kekuatan Kaisar Mongol Khu Bhi Lai Khan  yang menganut Bhairawa Heruka. aliran-aliran Sekte Bhairawa cenderung bersifat politik, untuk mendapatkan kharisma besar yang diperlukan dalam pengendalian pemerintahan dan menjaga keamanan wilayah kekuasaan kerajaan,seperti halnya pemimpin dari kalangan militer di masa sekarang, Karena itu raja-raja dan petinggi pemerintahan serta pemimpin masyarakat pada zaman dahulu banyak yang menganut aliran sekte ini.
Di ceritakan bahwa patih Majapahit Adityawarman/Arya Damar turut serta dalam ekspansi Majapahit ke Bali (Bedahulu) pada tahun 1343 yang dipimpin oleh Mahapatih Gajah Mada. Diceritakan bahwa ia dan saudara-saudaranya membantu Mahapatih Gajah Mada memimpin pasukan Majapahit untuk menyerbu Kerajaan Bedahulu Pejeng, Gianyar Bali. Kerajaan Bedahulu adalah kerajaan Bali kuno yang berdiri sejak pertengahan abad ke-9 sampai abad ke-14 yang diperintah oleh raja-raja keturunan dinasti Sri Warmadewa. Ketika menyerang Bali, raja Bali Bedahulu Sri Astasura Ratna Bumi Banten yang menguasai saat itu adalah seorang Bhairawa penganut ajaran Durga Bhairawi.

                                         Sakti Siwa Durga Kala Cakra
Untuk mengalahkan Raja Bali yang terkenal sakti itu Majapahit mengatur siasat agar Raja dan Mahapatih Bali harus dipisahkan kalau tidak Kerajaan Bali akan sulit untuk di taklukan dikarenakan Mahapatih Bali yaitu Kebo iwa adalah Mahapatih yang sangat kebal dari senjata tajam apapun dan dengan hal itu Mahapatih Gajah Mada mengatur siasat agar Mahapatih Kebo iwa di undang ke Jawa (Majapahit) dan juga memisahkan kedua kekuatan Utama Kerajaan Bali yaitu antara Raja Bedahulu dan Patihnya Kebo iwa, sehingga dengan itu Majapahit juga mengutus Patih Adityawarman yang menganut Bhairawa Kalacakra untuk mengimbangi kesaktian raja Bali Bedahulu.
Pertempuran Dahsyat sesama penganut Bhairawa yang terjadi berakhir dengan kekalahan Raja Bedahulu dengan kekalahan itu maka Raja Bedahulu Sri Astasura Ratna Bumi Banten disebutkan pergi menyelamatkan diri dari pengejaran tentara Majapahit ke arah Bukit Payangan Gianyar dan Bukit Kintamani Bangli yang memang daerah pada saat itu sebagai pusat mayoritas masyarakat Bali Aga,sehingga atas peristiwa itu Kerajaan Bali Bedahulu dengan mudah berhasil ditaklukan oleh Kerajaan Majapahit dan Mahapatih Bedahulu Kebo iwa gugur di jawa dikarenakan siasat tipu daya Mahapatih Gajah Mada.
Aliran sekte Bhairawa di Bali sudah berkembang pesat sejak abad ke-8 penyebaran ajaran ini bersamaan dengan kedatangan Rsi Markandeya di Bali yang juga beliau menurunkan berbagai Sekte-sekte aliran di Bali seperti Pasupatha,Siwa Sidhanta,Bhairawa,KalaMukha,Sambhu dan linggayat. lalu Pada abad ke-11 datanglah seorang Pandita Budha Mahayana yaitu Mpu Kuturan dan beliau ditugaskan sebagai penasihat utama (Purohita) Raja Bali Dwipa Sri Dharma Udayana Gunapriya Dharmapatni yang memperintahkan agar Mpu Kuturan mempersatukan seluruh sekte-sekte yang ada di Bali termasuk Sekte Bhairawa agar menjadi satu kesatuan yaitu Tri Murti Kahyangan tiga/kekuatan tuhan yang utama Brahma,Wisnu,Siwa dan Sekte Bhairawa beralih fungsi menjadi Pura Dalem yang memuja kesaktian khusus dari Dewa Siwa dan Durga.


                    Taru Beringin Setra Pura Dalem Agung Payangan

Misteri  Keangkeran  Pura  Dalem  Agung  Payangan dikarenakan Pura Dalem Agung Payangan ini sebagai tempat melinggihnya sekaligus Parahyangan ida Bhatari Dalem lingsir tidak dapat dipungkiri Kepingitan maupun Keangkeran dari Pura Dalem tertua di Payangan ini dan cerita masyarakat desa setempat terutama orang tua dahulu maupun masyarakat desa lain yang pernah melihat maupun merasakan keangkeran dari penjaga alam niskala Pura Dalem Agung Payangan menceritakan bahwa bentuk fisik dan tanda unen-unen maupun rencangan ida Bhatari Dalem lingsir apabila tedun/hadir pada saat hari dan waktu tertentu sehingga apabila ada manusia pada saat waktu dan jam yang memang tidak dibenarkan melakukan aktifitas ida duwe pasti menampakan wujudnya dan “ ida Duwe rencangan sangatlah banyak dan menyeramkan serta berwujud yang aneh-aneh” yaitu : 

Berwujud potongan kepala manusia berkuncung,Berwujud wanita cantikbermahkota,Berwujud ular naga,Berwujud tokek raksasa,Berwujud ular putih yang sangat panjang,Berwujud kepiting raksasa,Berwujud rangda penunggu kuburan,Berwujud tangan-tangan dan kaki yang sering berjalan mengitari wilayah kuburan,Berwujud ular Kendang/Weling,Berwujud ayam putih berkaki tiga,Berwujud bola api besar berupa Banaspati Raja yang dapat menghanguskan apa saja yang dilaluinya dan masih banyak sekali unen-unen maupun rencangan ida Bhatari Dalem lingsir yang berjumlah ribuan banyaknya dan yang pasti mendengarnya saja membuat bulu kuduk merinding apa lagi merasakan ataupun melihat penampakan yang berupa aneh-aneh tersebut, dan dengan adanya berbagai keunikan yang ada di Pura Dalem Agung Payangan ini baik itu Sekala maupun Niskala membuktikan bahwa kekuasaan Tuhan tidak sebatas hanya alam semesta maupun Mahkluk Ciptaannya yang nyata tetapi di luar itu Tuhan menciptakan mahkluk di luar dimensi alam lain yaitu alam Niskala.

Pura yang berkaitan dengan perjalanan suci Rsi Markandeya di Bumi Payangan yaitu :
  •          Pura Murwa Bumi  (tengah)
  •          Pura Dalem Agung Payangan  (timur)
  •          Pura AirJeruk / Er Jeruk Payangan  (Barat)
  •          Pura Agung Payangan (Selatan) dan
  •          Pura Puseh Melinggih Payangan  (Utara)
Kahyangan inilah sebagai panca parahyangan Bhatara-Bhatari lingsir ring Payangan atau tertua di Payangan yang dikarenakan adanya kahyangan ini sebagai awal cikal bakal terbentuknya Parahyangan pertama di Bali.

Pura Airjeruk/Erjeruk Payangan yang keberadaannya berkaitan dengan adanya kisah buah jeruk linglang yang hidup hanya di dunia Bhatara yang dapat menghidupkan (urip) mahkluk apapun yang telah Mati dan air dari buah jeruk sakti inilah diminum oleh Rsi Markandeya beserta pengikutnya dalam memulihkan kondisi tubuh setelah merabas Hutan Alas Angker Payangan yang banyak menelan korban jiwa dari pengikutnya Rsi Markandeya sehingga disebut Alas Angker/Hutan Angker dan juga kasiat dari air Jeruk linglang ini diyakini sangat luar biasa hebatnya dalam menyembuhkan berbagai penyakit,namun keberadaan pohon maupun jeruk linglang ini jauh berada di Alam niskala terkadang di hari tertentu terlihat namun juga terkadang tidak terlihat (Maya-Maya) dan hanya di Pura ini saja ada karena buah jeruk linglang ini kesayangan ida Bhatara yang melinggih di pura tersebut sehingga Rsi Markandeya memberi nama Parahyangan Air Jeruk.

Pura Agung Payangan adalah Bale Agungnya pulau Bali yang pada jaman dahulu Bale panjangnya sangat amat panjang dan bale agung inilah sebagai tempat pesamuan Agung Rsi Markandeya beserta pengikutnya dalam melakukan kegiatan upacara keagamaan maupun penyebaran ajaran Sekte-sekte aliran kepercayaan di Bali sehingga Bale Agung ini saat itu sebagai yang terpanjang di bali yang panjangnya dari Payangan desa sampai Pura Murwa Bumi desa Pengaji Payangan yang diperkirakan mencapai 1,5 km dan terbukti jejak peninggalan dari sendi kaki dasar pondasi bangunan Bale Agung di tahun 1960an masih terlihat jelas tetapi saat ini sudah tidak terlihat lagi dikarenakan tertutup oleh semak-semak maupun lahan persawahan masyarakat di wilayah desa Karang Suwung Payangan yang artinya pekarangan yang sepi dikarenakan di bongkarnya kayu Bale Agung yang sebagai tempat Pesamuan Agung Rsi Markandeya dan juga sebagai tempat tinggal sementara dari pengikut Rsi Markandeya di bumi Parahyangan yang banyak berpindah tempat ke daerah lain di seluruh Pulau Bali.

Pura Puseh Melinggih Payangan memiliki peninggalan benda-benda arkeologi berupa arca dewa-dewi, lingga yoni berbentuk semu,arca Ganesa,arca Bedogol dll. yang telah diteliti oleh para arkeologi dinas kepurbakalaan bahwa Pura Puseh ini ada di zaman awal sekte-sekte kepercayaan di wilayah Payangan pada abad ke-8 dan lebih tua di bandingkan dengan Pura Puseh lain di bali yang sebagai system kahyangan tiga kerajaan Bali kuno rumusan Mpu kuturan di abad ke-11  dan arca di pura puseh ini cenderung mendekati zaman peralihan Megalitic animisme ke zaman era Hindu Siwa di Bali. 


                Goa Pesiraman Bhatari lingsir Dalem Agung Payangan
                                                  (Taman Magenda)

Dari tinjauan sejarah tidak banyak terungkap mengenai Kahyangan/Pura kuno peninggalan Rsi Markandeya di Bali baik itu di wilayah Kecamatan Payangan maupun di Desa Taro Tegalalang,dikarenakan di jaman dahulu adanya politik kerajaan penguasa daerah pada saat itu.

Konon setelah berhasil mengembangkan ajaran Siwa di Bali,Rsi Markandeya kembali ke Gunung Raung di jawa timur untuk melakukan tapabrata  hingga mencapai Moksa (manunggaling lan gusti) ditempat tersebut.

Dari keberadaan Parahyangan/Kahyangan di Bali dapat di sadari bahwa begitu besar jasa Rsi,Mpu,maupun Dhang Guru dalam menyebarkan ajaran Hindu di Bali dan tanpa jasa beliau-beliau di Bali kita tidak akan pernah merasakan nikmatnya hasil karya Agung berupa tradisi ritual sakral yang berbalut seni budaya hingga sampai-sampai pulau kecil nan cantik ini di beri nama The Lord Island (Pulau Dewata) sebutan di mata Dunia internasional kepada pulau Bali oleh karena itu kita sebagai Orang Bali sepatutnya Bangga dan melestarikan Adat Agama maupun tradisi Budaya di Bali karena Bali adalah satu-satunya Warisan Nusantara maupun Dunia. 
                                                     
                               Desa Melinggih Kecamatan Payangan

Desa Melinggih,Payangan terbagi menjadi enam Banjar yang terdiri dari :

1.Br.Pengaji

2.Br.Sema

3.Br.Badung

4.Br.Payangan Desa

5.Br.Melinggih

6.Br.Griya 


Piodalan/Pujawali Pura Dalem Agung Payangan : Buda Manis Julungwangi

Piodalan Ageng/Karya Gede : Buda Manis Julungwangi,Sasih Kesanga

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SEMANGAT PAGI....SUKSES Untuk SEMUA
JIKA ANDA PIKIR BISA PASTI BISA..!
Maaf apabila dalam pengambilan GAMBAR dirasa VULGAR
(Gambaran ini Hanyalah FAKTA sesuai dengan ASLINYA)
dan TIDAK Mutlak untuk diperdebatkan......................!!!

KALAU MAU DONATUR ( SEDEKAH )

Sedekah (Bisa Menunda Kematian)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
KLCK aja ICON dibawah untuk Baca berita
Link-link My Country Dept.(Tinggal Klick GAMBARnya AJA)